Harga Minyak Melemah Dipicu Pesimisme Tercapainya Target Ekonomi China
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak pagi ini Rabu, (5/3/2025) terpantau masih bergerak tertekan dibebani oleh sejumlah sentimen. Antara lain pesimisme pertumbuhan ekonomi China dan sinyal peningkatan pasokan dari Venezuela serta Kazakhstan yang berpotensi memicu meningkatnya pasokan minyak di pasar global.
Sebagaimana diketahui China mempertahankan target pertumbuhan ekonominya untuk tahun ini tidak berubah pada sekitar 5%, dan target defisit anggaran sebesar 4% dari PDB pada tahun 2025, naik dari 3% pada tahun 2024.
“Berita tersebut memicu pesimisme akan sulit tercapainya target pertumbuhan China di tengah berlangsungnya perang tarif dagang dengan AS,” tulis riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) Rabu (5/3/2025).
Baca Juga
Pertumbuhan Positif Manufaktur China Dorong Kenaikan Harga Minyak
Turut membebani harga, ekspor rata-rata minyak mentah dan bahan bakar Venezuela mencapai 934.465 bph pada bulan Februari, yang sekaligus merupakan level tertinggi sejak November, ungkap data terbaru pemantauan kapal.
Tren kenaikan tersebut diperkirakan masih akan terus berlanjut, terlebih menyusul keputusan Departemen Keuangan AS yang pada hari Selasa memerintahkan penghentian kegiatan Chevron di Venezuela dalam 30 hari ke depan.
Baca Juga
Harga Minyak Naik Lebih dari 2% Setelah Trump Cabut Lisensi Chevron di Venezuela
Sentimen negatif lainnya datang dari rencana Kazakhstan untuk meningkatkan ekspor minyak melalui rute ekspor utamanya, jalur pipa CPC, sebesar 12% menjadi 6,7 juta ton. “Berita tersebut mengisyaratkan potensi pasokan berlebih di pasar di tengah rencana OPEC+ untuk meningkatkan output mulai bulan April sesuai kesepakatan awal,” ulasnya.
Sementara itu, grup industri API melaporkan stok minyak mentah turun sebesar 1,46 juta barel untuk pekan yang berakhir 28 Februari. Stok bensin dilaporkan turun sebesar 1,25 juta barel. Laporan API tersebut mengindikasikan permintaan yang kuat di pasar energi AS.
“Meski demikian, pasar masih menantikan laporan resmi versi pemerintah yang akan dirilis Rabu malam oleh badan statistik EIA,” jelas riset tersebut.
ICDX melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 70 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 65 per barel.

