Belum Ada Tanda Pembalikan Arah, IHSG Terbuka Lanjuktan Koreksi ke Bawah Level 6.000
JAKARTA, investortrust.id – Tekanan terhadap pasar saham Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan tetap berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Bahkan, terbuka peluang koreksi indeks harga saham gabungan (IHSG) ke bawah level 6.000 pekan depan.
Tanda-tanda berlanjutnya koreksi terlihat dari anjloknya IHSG sebanyak 214,85 poin (3,31%) menjadi 6.270,60 pada penutupan Jumat (28/2/2025) dan telah anjlok mencapai 11,43% untuk year to date (ytd). Aksi jual saham semakin gendar setelah Morgan Stanley menurunkan peringkat MSCI Index Indonesia dan rambatan tersebut diperkirakan berlanjut pekan depan, sehingga terbuka peluang IHSG turun ke bawah level 6.000.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana memandang, sentimen negatif pasar saham semakin kuat setelah MSCI menurunkan peringkat Indonesia dari equalweight menjadi underweight. Penurunan peringkat ini memicu arus modal asing ke luar dari pasar saham domestic, karena adanya rebalancing MSCI Indonesia mencapai Rp 1,9 triliun atau sekitar US$ 120 juta.
Baca Juga
Morgan Stanley, menurut dia, memangkas peringkat MSCI indeks Indonesia dengan mempertimbangkan perkiraan return investasi tak akan menarik tahun 2025 akibat perlambatan ekonomi global dan domestik. Hal ini selaras dengan langkah investor global yang lebih memilih aset safe haven seperti emas dan obligasi.
“Jika tekanan ini terus berlanjut, target bottom IHSG diproyeksikan menuju kisaran 6.000 – 6.100, bahkan tidak menutup kemungkinan IHSG menembus level psikologis di bawah 6.000,” kata Hendra saat dihubungi investortrust.id Jumat, (27/2/2025).
Penurunan peringkat MSCI ini, menurut dia, telah membuat aksi jual saham agresif saham oleh investor asing dengan total net sell mencapai Rp 7,67 triliun dalam sepekan terakhir, terutama pada saham-saham perbankan seperti BBCA Rp 2,1 triliun, BBRI Rp 1,8 triliun dan BMRI Rp 1,1 triliun. Sedangkan total net sell saham oleh investor asing telah mencapai Rp 21,89 triliun untuk year to date (ytd).
Selain faktor MSCI, dia mengatakan, tekanan jual hebat pasar saham dipicu atas minimnya stimulus dari regulator fiskal dan moneter hingga membuat investor semakin waspada terhadap prospek pasar saham domestik. Tanda-tanda investor mewaspadai pasar domestic ditunjukkan indikator Fear & Greed Index di AS menunjukkan angka 18/100 (Extreme Fear) menandakan tingkat pesimisme pasar yang sangat tinggi. Sementara itu, rupiah terus melemah dan mendekati Rp 16.550 per dolar AS, menambah tekanan bagi IHSG.
Dengan kondisi ini, menurut Hendra, pelaku pasar mulai mempertimbangkan skenario worst case, di mana IHSG bisa saja terkoreksi lebih dalam hingga ke bawah level 6.000, bahkan bisa mencapai 5.800, jika aksi jual asing masih deras. “Meski demikian, masih ada harapan bahwa level support kuat di 6.100 dapat menjadi titik balik IHSG untuk rebound, meskipun pergerakannya masih sangat ditentukan oleh arus modal asing,” ucap dia.
Bank Terpukul
Dia melanjutkan, sektor perbankan menjadi salah satu sektor yang paling terpukul, dengan tekanan jual besar-besaran yang menyebabkan saham-saham big caps menjadi top laggards. “Tidak ada indikasi rotasi dana ke sektor lain, mengingat sebagian besar investor lebih memilih bersikap wait and see,” katanya.
Dengan bobot 24% terhadap IHSG, di mana BBCA menyumbang 9,3%, BBRI 5,7%, dan BMRI 3,8%, pelemahan di sektor ini menjadi faktor utama yang menyeret IHSG ke level lebih rendah. Laporan keuangan terbaru juga kurang menggembirakan, dengan laba BBRI pada Januari 2025 anjlok 58,3% secara tahunan dan pertumbuhan kredit hanya 4,6% secara tahunan.
Baca Juga
Investor Asing Net Sell Saham Jumbo hingga Rp 2,91 Triliun, Saham Big Cap Ini Diobral
Terkait peluang pergerakan IHSG pekan depan, Hendra mengatakan, IHSG berpotensi bergerak sideways dengan kecenderungan melemah akibat aksi panic selling. Namun, tekanan jual diperkirakan mulai mereda pada pertengahan pekan depan, seiring dengan rilis data ekonomi penting seperti inflasi Indonesia (diproyeksi turun dari 0,76% pada Januari menjadi 0,5% di Februari 2025) dan PMI Manufaktur (diperkirakan meningkat dari 51,9 ke 52,3). “Di sisi lain, rebalancing MSCI yang masih berlangsung bisa terus memberikan tekanan, terutama terhadap sektor perbankan,” ungkap dia.
Selain faktor domestik, sambung Hendra, kebijakan ekonomi global menjadi perhatian utama. Presiden AS Donald Trump baru saja mengumumkan tarif impor baru terhadap Kanada, Meksiko, dan China yang akan berlaku mulai 4 Maret 2025. Tarif untuk produk China naik menjadi 20%, yang berpotensi mengganggu arus perdagangan global dan meningkatkan inflasi di AS.
Dampaknya, The Fed kemungkinan besar akan menunda pemangkasan suku bunga, yang dapat memicu penguatan dolar AS dan menekan nilai tukar rupiah.
Baca Juga
PP DHE SDA Terbit, Pemerintah Targetkan US$ 165,9 Miliar Parkir di Dalam Negeri
“Jika skenario ini terjadi, Bank Indonesia mungkin harus menaikkan suku bunga untuk menstabilkan rupiah, yang dapat semakin membebani sektor riil dan pasar saham domestik. Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan mempertahankan posisi cash lebih besar,” bebernya.
Beberapa saham yang masih menarik untuk dipantau mencakup PSAB dengan target harga Rp 280 dan EMTK dengan target harga Rp 580. Sementara itu, IHSG diprediksi masih akan bergerak dalam tren pelemahan dengan level resistance di Rp 6.400 dan support di Rp 6.162. “Pasar masih membutuhkan katalis positif yang kuat untuk membalikkan tren ini, baik dari stimulus domestik maupun sentimen global yang lebih kondusif,” tuturnya.

