BCA Digital Buka Suara Soal Kabar Mau IPO Saham
JAKARTA, investortrust.id - Anak usaha PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), BCA Digital alias Blu by BCA buka suara terkait kabar perseroan yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui pencatatan umum perdana (initial public offering/IPO) saham.
Head of Corporate Planning BCA Digital Yoga T. Halim menegaskan, sebagai anak perusahaan pihaknya masih menuggu arahan dari perusahaan induknya, BCA.
"Untuk IPO kita juga menunggu arahan dari BCA, di mana Pak Jahja Setiaatmadja (Direktur Utama BBCA) juga bilang bahwa masih terlalu dini, fokus kita sekarang mau mengembangkan Blu by BCA-nya sendiri," kata Yoga dalam acara BCA EXpoversary di Tangerang, Jumat, (21/2/2025).
Baca Juga
Secara kinerja, laba bersih bank yang dipimpin Lanny Budiati sebagai direktur utama ini melonjak 134,49% secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp 46,04 miliar pada 2023 menjadi Rp 107,97 miliar pada 2024. Selain itu, DPK tumbuh 30,69% dari Rp 8,97 triliun menjadi Rp 11,73 triliun.
Yoga menekankan juga bahwa saat ini pihaknya masih fokus pada peningkatan fundamental BCA Digital, "Kembali, bahwa kita inginnya Blu by BCA itu bisa jadi pegangan untuk transaksi digital sehari-hari. Nanti pada saatnya barulah kita ke arah IPO, sekarang ini kita mau fokus dulu berbenah dulu, pasti masih banyak yang perlu kita berbenah, kita improve lagi," jelasnya.
Baca Juga
Sehingga, jika sudah memperkuat fundamental perusahaan, Yoga mengungkapkan pihaknya yakin bisa melakukan aksi korporasi tersebut. "Jadi nanti kalau sudah kita mau IPO, kita sudah mau melepas (saham), kitanya lebih tenang dan pihak luarnya (investor) juga jadi lebih yakin inilah Blu by BCA digital Ini bagus," tuturnya.
Diberitakan investortrust.id sebelumnya, dari berita yang beredar, terdapat dua bank digital yang akan melakukan IPO. Pertama, BCA Digital alias blu yang sudah berdiri sekitar 5 tahun dan telah mencetak laba. Kedua, bank digital besutan Grup Emtek, PT Super Bank Indonesia alias Superbank. Superbank dikabarkan mengincar valuasi US$ 200 juta hingga US$ 300 juta (Rp 3,23 triliun hingga Rp 4,85 triliun) dalam opsi IPO itu.

