OJK Buka Suara Terkait Kabar Dua Bank Digital akan Melantai di Bursa
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka suara terkait kabar dua bank digital yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui pencatatan umum perdana (initial public offering/IPO) saham.
Dari berita yang beredar, kedua bank digital tersebut yakni anak usaha dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT BCA Digital alias blu itu sudah berdiri sekitar lima tahun dan telah mencetak laba. Lalu yang kedua adalah bank digital besutan Grup Emtek, PT Super Bank Indonesia alias Superbank. Superbank dikabarkan mengincar valuasi US$ 200 juta hingga US$ 300 juta (Rp 3,23 triliun hingga Rp 4,85 triliun) dalam opsi IPO itu.
“Kami belum mendapat kabar itu, secara dokumen, sepehaman kami belum ada informasi bahwa dua bank digital yang dimaksud,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK Tahun 2025, di Jakarta, Jumat (24/1/2025).
Meski saat ini pihaknya belum menerima terkait informasi tersebut, Mahendra menekankan jika ada kabar resmi lebih lanjut kabar tersebut. Pihaknya akan melaporkan secara resmi kepada publik.
“Nanti apabila memang sudah masuk betul dan sudah resmi, sekiranya tentu akan kami laporkan,” jelas Mahendra Siregar.
Baca Juga
Ungkap Belum Ada Bank Digital hingga BPR Ajukan IPO, OJK: Mungkin Mereka Sedang Melakukan Persiapan
Berdasarkan data BEI melaporkan sebanyak 17 perusahaan sedang dalam antrean (pipeline) IPO. Dari angka tersebut didominasi oleh 16 perusahaan dengan aset skala besar dengan nilai di atas Rp 250 miliar.
Sedangkan 1 perusahaan dengan skala menengah beraset Rp 50- Rp 250 miliar, Adapun perusahaan beraset kecil di bawah Rp 50 miliar masih terlihat dalam pipeline IPO saham di awal tahun ini.
Baca Juga
Bukalapak (BUKA) Buka Opsi Penggunaan Sisa Dana IPO untuk Akusisi
Secara sektoral, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menyampaikan, pipeline tersebut, berasal dari 2 perusahaan sektor bahan baku, 1 sektor konsumen siklikal, 6 sektor konsumer non siklikal, 1 sektor energi, 1 sektor keuangan, kemudian 2 sektor kesehatan.
"Sedangkan 3 perusahaan dari sektor industri dan 1 perusahaan dari sektor transportasi dan logistik," tulis Nyoman melalui keterangan tertulisnya kepada wartawan, dikutip Sabtu (18/1/2025).

