Begini Alasan Kenapa DeepSeek Sempat Bikin Harga Bitcoin Anjlok
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin sempat anjlok 6% pada 27 Januari 2025 setelah pasar saham Amerika Serikat (AS) mengalami guncangan akibat peluncuran model kecerdasan buatan atau artifcial intelligence (AI) asal China, DeepSeek. Model AI ini digadang-gadang menjadi pesaing serius bagi perusahaan AI AS seperti OpenAi, namun dengan biaya pengembangan yang jauh lebih rendah.
Melansir Cointelegraph, Jumat (31/1/2025), investor dan pendiri firma modal ventura Andreessen Horowitz Marc Andreessen bahkan menjuluki peristiwa ini sebagai “momen Sputnik AI”, merujuk pada kejutan global saat Uni Soviet meluncurkan satelit pertama ke luar angkasa pada 1957.
DeepSeek mengejutkan pasar dengan klaim bahwa model AI-nya ikembangkan dengan anggaran kurang dari US$ 6 juta, menggunakan perangkat keras yang lebih sederhana dibandingkan prosesor canggih dari Nvidia.
Hal ini menyebabkan saham-saham teknologi besar di AS, termasuk ‘Magnificent Seven’ seperti Apple, Nvidia, Tesla, Microsoft, Amazon, Meta, dan Alphabet mengalami penurunan signifikan. Bahkan, Nvidia anjlok hampir 17% dalam satu hari, yang menjadi rekor terburuk di Wall Street.
Baca Juga
Selain sektor teknologi, saham utilitas energi juga terkena dampak karena perusahaan ini mengandalkan pendapatan dari konsumsi daya tinggi yang digunakan oleh model AI dari AS seperti ChatGPT.
Guncangan di pasar saham turut menyeret harga Bitcoin dan aset kript lainnya. Selain Bitcoin yang turun 6% pada 27 Januari 2025, Ethereum (ETH) jugaa merosot 7%, sementara sejumlah alternative coin (altcoin) mengalami penurunan dua digit.
Menurut CEO bursa kripto Exodus JP Richardson, korelasi ini mencerminkan bahwa aset kripto masih dianggap sebagai aset berisiko. “Ketika terjadi guncangan atau ketakutan di pasar saham seperti munculnya model AI yang tak terduga, biasanya anda melihat korelasi dalam jatuhnya harga di pasar saham dan aset kripto serta Bitcoin,” katanya.
Walaupun kripto tidak memiliki hubungan secara langsung dengan DeepSeek, investor tampaknya bereaksi terhadap ketidakpastian di pasar dengan menjual aset berisiko, termasuk Bitcoin. “Meskipun kripto tidak memiliki narasi jangka pendek, korelasi mendorong arus dan de-risking ditandai,” tulis perusahaan pembuat pasar kripto Wintermute.
Baca Juga
Indonesia Bisa Ambil Cuan dari Persaingan DeepSeek dan ChatGPT
DeepSeek dipandang sebagai inovasi besar dalam industri AI karena bersifat open source. Hal ini memungkinkan pengembang lain untuk memanfaatkan teknologi tersebut guna membangun model yang lebih baik dan lebih murah.
Richardson menilai bahwa kehadiran DeepSeek harus dianggap sebagai peluang. “Semua orang harus melihat ini sebagai hadiah untuk menciptakan sistem AI yang lebih baik, lebih murah, lebih cepat, terbuka, dan gratis,” ucapnya.
Namun, beberapa analis percaya bahwa dampak DeepSeek terhadap pasar kripto akan terbatas. Direktur penyedia likuiditas pasar Wincet Paul Howard, menyatakan bahwa meskipun teknologi ini mengejutkan pasar, biaya yang lebih rendah dari DeepSeek tidak akan banyak mengubah cara institusi besar berinteraksi dengan kripto, yang masih dianggap sebagai aset berisiko tinggi.
Meski mengalami penurunan tajam, Bitcoin menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Kepala Riset Eropa di manajer aset Bitwise Andre Dragosch, bahkan menilai bahwa stabilitas Bitcoin sementara Nasdaq terus merosot merupakan indikasi yang sangat optimis.
Di sisi lain, faktor geopolitik juga bisa menjadi penghambat adopsi DeepSeek di pasar global. Regulasi di AS dan Uni Eropa tengah menyoroti isu privasi dan keamanan terkait AI asal China ini. Beberapa pengamat membandingkannya dengan kasus TikTok, yang sebelumnya mendapat tekanan dari regulator AS karena dianggap mengancam keamanan data pengguna.

