Popularitas AI China DeepSeek Bikin Saham Nvida Boncos, Mengapa?
CALIFORNIA, investortrust.id - Nvidia memuji model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) buatan DeepSeek asal China. Meski DeepSeek membuat saham Nvidia boncos alias anjlok 17% pada Senin (27/1/2025), tetapi perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu memuji DeepSeek.
"DeepSeek adalah kemajuan AI luar biasa dan contoh sempurna dari test time scaling," kata juru bicara Nvidia dikutip dari CNBC, Selasa (28/1/2025).
Model AI DeepSeek dinilai mampu menjawab tantangan di tengah keterbatasan ekspor cip dari Pemerintah AS ke China. "Karya DeepSeek menunjukkan bagaimana model baru dapat dibuat dengan teknik ini, memanfaatkan model yang ada, dan komputasi mematuhi aturan kontrol ekspor,” ungkap perwakilan Nvidia.
Baca Juga
Trump Sebut Kehadiran AI China DeepSeek Jadi Alarm Perusahaan Teknologi AS
DeepSeek pekan lalu merilis R1, model reasoning berbasis open source yang mampu melampaui performa model terbaik buatan perusahaan AS, seperti OpenAI. Lebih mengejutkan lagi, biaya pelatihan DeepSeek-R1 di bawah US$ 6 juta, jauh lebih murah dibandingkan biaya pengembangan model AI di Silicon Valley yang mencapai miliaran dolar.
Menurut Nvidia, terobosan ini menciptakan kebutuhan unit pemrosesan grafis (GPU) milik mereka. “Proses inference membutuhkan GPU Nvidia dalam jumlah besar dan jaringan performa tinggi,” tambah juru bicara tersebut.
DeepSeek mengeklaim menggunakan versi khusus GPU Nvidia yang dirancang untuk pasar China, dan sepenuhnya mematuhi aturan ekspor AS. Pernyataan ini sekaligus menepis komentar CEO Scale AI Alexandr Wang yang sebelumnya menduga DeepSeek memakai GPU Nvidia yang dilarang masuk ke Negeri Tirai Bambu.
Efek pada perusahaan teknologi AS
Kemunculan DeepSeek menimbulkan pertanyaan di kalangan analis tentang efektivitas investasi besar-besaran yang dilakukan perusahaan, seperti Microsoft, Google, dan Meta untuk infrastruktur AI berbasis Nvidia.
Microsoft bulan ini mengumumkan rencana menghabiskan US$ 80 miliar untuk infrastruktur AI pada 2025. Sementara itu, CEO Meta Mark Zuckerberg menyatakan bahwa perusahaannya akan menginvestasikan US$ 65 miliar untuk belanja modal AI pada tahun yang sama.
“Jika biaya pelatihan terbukti jauh lebih rendah, kami memperkirakan manfaat jangka pendek bagi perusahaan konsumen, seperti iklan dan perjalanan yang menggunakan layanan cloud AI, kemungkinan akan lebih rendah,” tulis analis BofA Securities Justin Post.
Baca Juga
AI DeepSeek China Ancam Perusahaan Teknologi AS, Senator Desak Trump Lakukan Ini
Di sisi lain, sebagian besar lonjakan permintaan GPU Nvidia didorong konsep "hukum skala” yang diajukan peneliti OpenAI pada 2020. Konsep ini menyatakan bahwa sistem AI yang lebih baik dapat dikembangkan dengan memperluas jumlah komputasi dan data dalam proses pembuatannya, sehingga membutuhkan banyak cip.
Namun, sejak November tahun lalu, baik Nvidia maupun OpenAI fokus pada pengembangan hukum skala ini, yang disebut test-time scaling. Secara sederhana, konsep ini menyebutkan, model AI yang sudah dilatih banyak daya komputasi saat menghasilkan teks atau gambar, akan memberikan jawaban lebih baik dibandingkan berjalan dalam waktu singkat.
Nah, DeepSeek-R1 adalah salah satu contoh penerapan konsep tersebut, bersama beberapa model OpenAI seperti o1. Dengan strategi ini, DeepSeek dinilai telah berhasil membuktikan bahwa teknologi AI yang hemat biaya dan tetap mampu bersaing di level global. (C-13)

