Akuisisi Fiber Optik, Saham Mitratel (MTEL) Jadi Pilihan Teratas
JAKARTA, investortrust.id – Keputusan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel untuk mengakuisisi PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT) yang memiliki fiber optik sepanjang 8.101 km menjadi sentimen positif. Sebab, aksi ini langsung berimbas terhadap tambahan pendapatan senilai Rp 10 miliar per bulan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis dan Kafi Ananta mengatakan, berdasarkan perhitungan akuisisi tersebut akan menghasilkan tambahan senilai Rp 10 miliar per bulan terhadap total pendapatan Mitratel.
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Ungkap Akuisisi Fiber Optik UMT akan Langsung Berkontribusi terhadap Pendapatan
“Mitratel akan lansgung mendapatkan tambahan pendapatan senilai Rp 10 miliar pada kuartal IV-2024 usai akuisisi ini dituntaskan. Sedangkan pendanaan berasal dari utang yang sudah dikantongi perseroan pada kuartal III-2024,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, Selasa (10/12/2024).
Selain menambah pendapatan, dia mengatakan, akuisisi ini akan meningkatkan porsi segmen penyewaan fiber optik menjadi 5,4% terhadap total pendapatan. Sebagaimana diketahui bisnis fiber optik memiliki potensi pertumbuhan lebih pesat ke depan.
Terkait kinerja keuangan, dia mengatakan, Mitratel diprediksi lanjutkan pertumbuhan, bahkan tingkat peningkatan kuartal IV-2024 bakal lebih pesat, dibandingkan tiga kuartal di 2024. Hal ini didukung atas sebagian besar operator telekomunikasi mengeluarkan anggaran belanja modal lebih pesat.
Baca Juga
4 Sekuritas Ini Kompak Rekomendasikan Beli Saham Mitratel (MTEL), Simak Target Harganya
Hingga kuartal III-2024, Mitratel (MTEL) membukukan peningkatan pendapatan dan laba bersih masing-masing Rp 6,81 triliun dan Rp 1,53 triliun. Raihan laba tersebut setara dengan 73,7% dari target BRI Danareksa Sekurtias.
Dengan aksi tersebut, BRI Danareksa Sekuritas memeprtahankan rekomendasi beli saham MTEL dengan target harga Rp 1.000 per saham. Target tersebut
menyiratkan proyeksi EV/EBITDA tahun 2025 sebanyak 12,5 kali. Saat ini, saham MTEL ditransaksikan pada
EV/EBITDA sektiar 8,7 kali. “Kami juga mengantisipasi potensi kenaikan pendapatan MTEL, jika mengakuisisi aset fiber FTTT Telkom. Saham MTEL adalah pilihan utama kami sektor,” tulisnya.
Mitratel sebelumnya telah mengakuisisi PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT), perusahaan yang memiliki fiber optik sepanjang 8.101 km. Akuisisi ini ditandai dengan penandatangananan Akta Jual Beli Saham (share purchase agreement) sebanyak 100% saham UMT dari anak usaha PT PP (Persero) Tbk (PTPP), yaitu PT PP Infrastruktur. Nilai transaksinya mencapai Rp 650 miliar.
Baca Juga
Begini Cara Mitratel (MTEL) Tekan Biaya Operator Seluler di IKN Nusantara
Direktur Utama Mitratel (MTEL) Theodorus Ardi Hartoko mengatakan, akuisisi ini bernilai strategis dalam memperkuat ekosistem bisnis menara telekomunikasi dan meningkatkan penguasaan pangsa pasar Mitratel dalam bisnis Fiber To The Tower (FTTH). Aksi ini juga bakal berdampak langsung terhadap pendapatan, karena fiber optik yang diakuisisi sudah beroperasi dan memiliki kontrak jangka panjang.
“Asset fiber yang kami akuisisi ini lokasinya tersebar di Sumatera, Jawa dan Bali. Hal ini sejalan dengan arah ekspansi industri telekomunikasi di masa depan dalam rangka menyongsong era implementasi teknologi 5G serta menyasar sejumlah daerah pertumbuhan ekonomi baru,” kata Teddy.
Dengan adanya tambahan 8.101 km fiber dari UMT, jaringan fiber optik Mitratel lebih dari 47.800 km. Berdasarkan jumlah tersebut, 56% aset fiber optik tercatat berada di luar pulau Jawa dan 44% berada di pulau Jawa.
Pasca transaksi, menurut dia, Mitratel akan memperoleh potensi tambahan pendapatan sesuai dengan kontrak yang sebelumnya dimiliki UMT dengan billable length (pendapatan dari aset yang dapat ditagih) sepanjang 12.524 kilometer. “Tambahan pendapatan ini dapat dikonsolidasikan dalam laporan keuangan perseroan pasca transaksi,” terangnya.
Saham MTEL

