Bitcoin Kian Tertekan Imbas Meningkatnya Kekhawatiran Investor Terhadap Inflasi, Masih Ada Potensi Reli?
JAKARTA, investortrust.id - Pasar kripto terkoreksi cukup dalam pasca rilis beberapa data ekonomi Amerika Serikat baru-baru ini. Bitcoin yang sempat mengalami kenaikan di atas US$ 100 ribu kembali turun ke level US$ 95 ribuan pada Rabu (8/1/2025) sore. Penurunan tersebut turut diiringi dengan penurunan mayoritas aset kripto di pasar termasuk aset kripto besar lainnya seperti DOGE, AVAX, LINK, DOT, dan UNI yang masing-masing mengalami penurunan lebih dari 10% dalam 24 jam terakhir.
Penurunan juga terjadi di pasar saham AS yang ditutup di zona merah pada Selasa (7/1/2025) kemarin waktu setempat. Penurunan terbesar terjadi pada sektor teknologi, dengan indeks Nasdaq Composite anjlok sekitar 1,9%. Saham Nvidia (NVDA), yang sebelumnya mencetak rekor harga penutupan, merosot lebih dari 6% terlepas dari adanya paparan perusahaan terkait rencana besarnya di bidang AI. Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun naik sekitar 7 basis poin, mendekati level 4,7%. Kenaikan tersebut mengindikasikan meningkatnya keraguan investor terhadap potensi berlanjutnya tren penurunan suku bunga The Fed.
Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin mengatakan terkoreksinya pasar kripto dan Saham AS tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi meningkatnya tekanan inflasi AS, yang mungkin dapat membuat The Fed tidak lagi melanjutkan penurunan suku bunga pada pertemuan FOMC akhir bulan ini.
“Indikasi inflasi yang meningkat terlihat pada beberapa data ekonomi yang dirilis tadi malam, diantaranya seperti aktivitas sektor jasa yang melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir, defisit perdagangan yang melebar sebesar US$ 4,6 miliar menjadi US$ 78,2 miliar, dan jumlah rekrutmen tenaga kerja yang turun 125 ribu menjadi 5,269 juta,” ujar Fahmi dalam siaran pers, Rabu (8/1/2025).
Baca Juga
Bitcoin, Ethereum, XRP, BNB dan Solana Anjlok di Atas 5%, Apa Penyebabnya?
Aktivitas sektor jasa di Amerika Serikat meningkat pada bulan Desember, menunjukkan kondisi permintaan yang masih kuat.
“Namun, biaya input untuk bisnis jasa juga melonjak, yang mengindikasikan kondisi inflasi yang masih tetap tinggi. Laporan Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan bahwa indeks PMI sektor jasa naik dari 52,1 pada November menjadi 54,1 di Desember, melampaui perkiraan ekonom yang memproyeksikan angka 53,3. Indeks harga yang dibayarkan (prices paid) untuk sektor jasa melonjak dari 58,2 di bulan November menjadi 64,4 di Desember, yang merupakan level tertinggi sejak Februari 2023. Kenaikan tersebut menyoroti tantangan inflasi yang masih kuat sejalan dengan pandangan The Fed untuk mengurangi pelonggaran di tahun ini,” lanjutnya.
Di sisi lain, kondisi neraca perdagangan AS juga tidak kalah mengkhawatirkan, meskipun masih berada pada kondisi yang cukup stabil. “Pelebaran defisit yang disebabkan oleh peningkatan impor yang lebih tinggi dapat menjadi faktor pendukung arah kebijakan presiden AS terpilih, Donald Trump, untuk menaikkan tarif, yang jika terjadi, memiliki potensi signifikan untuk turut mendorong kenaikan inflasi,” tambahnya.
Kenaikan tarif impor, apabila diberlakukan dapat turut berdampak pada sektor tenaga kerja. Data pasar tenaga kerja AS pada November 2024 yang dirilis malam tadi menunjukkan pertumbuhan rekrutmen pekerja yang mulai melambat dengan turunnya jumlah rekrutmen sebesar 125.000, meskipun jumlah lowongan pekerjaan mengalami peningkatan sebesar 259.000 menjadi 8,098 juta. “Situasi tersebut mungkin mengindikasikan meningkatnya kehati-hatian para pelaku usaha di tengah outlook ekonomi yang beragam saat ini,” katanya.
Baca Juga
Potensi Katalis Positif
Rilis data inflasi CPI AS pada 15 Januari pekan depan akan menjadi momentum krusial menjelang penentuan kebijakan suku bunga AS pada 29 Januari mendatang. “Jika ternyata inflasi CPI menunjukkan kenaikan yang cukup minim atau bahkan tidak mengalami kenaikan, maka sentimen pasar besar kemungkinan akan kembali bullish. Namun, melihat perkembangan yang ada saat ini, kemungkinan lebih mengarah kepada kenaikan moderat, yang mungkin akan membuat The Fed menahan suku bunga pada pertemuan FOMC bulan ini,” jelas Fahmi.
“Di tengah dinamika dan outlook tersebut, momentum pelantikan Donald Trump pada 20 Januari berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar kripto. Sehingga, secara umum, situasi di pasar kripto dan saham AS yang ada saat ini dapat dikatakan cukup menantang dengan peluang yang masih terbuka di tengah tantangan besar yang ada. Adanya kebijakan atau inisiatif baru yang lebih suportif bagi pasar kripto oleh pemerintah AS di bawah
kepemimpinan Trump akan menjadi faktor penting berlanjutnya reli yang ada saat ini,” tambahnya.

