Bitcoin, Ethereum, XRP, BNB dan Solana Anjlok di Atas 5%, Apa Penyebabnya?
JAKARTA, investortrust.id - Pasar kripto kompak merosot tajam di bawah US$ 100.000, menghapus sebagian keuntungan yang diperoleh pada awal pekan ini karena meningkatnya kekhawatiran tentang pasar obligasi.
Total likuidasi dalam 24 jam terakhir mencapai lebih dari US$ 388 juta, dengan lebih dari US$ 206 juta di antaranya hilang dalam satu jam. Sebagian besar likuidasi ini melibatkan posisi long dan short di seluruh bursa utama.
Menilik data Coinmarketcap, Rabu (8/1/2025) semua koin kripto berada di zona merah, bahkan penurunannya amat tajam dengan rata-rata di atas 5% dalam 24 jam terakhir. Koin-koin dengan kapitalisasi pasar besar juga terhempas, seperti Bitcoin, Ethereum (ETH), Ripple XRP, BNB, dan Solana yang turun masing-masing 5,01%, 7,95%, 5,13%, 5,75%, dan 7,16%. Kapitalisasi pasar kripto global menjadi US$ 3,38 triliun, penurunan 5,86% selama hari terakhir.
Penurunan ini sejalan dengan sentimen risk-off yang meluas ke pasar keuangan lainnya, khususnya ekuitas. Indeks Nasdaq 100 dan S&P 500 anjlok didominasi oleh perusahaan teknologi, cenderung lebih sensitif terhadap sentimen risiko. Saham teknologi populer juga terpengaruh seperti Saham NVIDIA dan Tesla, serta Super Micro Computer.
Baca Juga
Pengawasan Kripto Kini di OJK, Simak Langkah yang Akan Dilakukan OJK
Aksi jual tersebut kemungkinan didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi AS menjelang laporan ekonomi utama, termasuk data nonfarm payrolls dan risalah Federal Reserve. Imbal hasil obligasi 10 tahun naik sebesar 1,7% menjadi 4,70%, sedangkan imbal hasil obligasi 30 tahun dan 5 tahun masing-masing naik menjadi 4,61% dan 4,50%.
Meningkatnya imbal hasil obligasi biasanya, dilansir dari Crypto.News, Rabu (8/1/2025) menandakan ekspektasi akan sikap yang lebih agresif dari Federal Reserve. Pada pertemuannya di bulan Desember, Fed mengisyaratkan dua kali pemotongan suku bunga pada tahun 2025, lebih sedikit dari yang diantisipasi sebelumnya. Risalah dari pertemuan tersebut, yang akan dirilis pada hari Rabu, 8 Januari, akan memberikan wawasan lebih jauh tentang diskusi Fed.
Bitcoin dan mata uang kripto lainnya menghadapi tekanan tambahan setelah laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan lowongan pekerjaan melonjak ke level tertinggi dalam enam bulan, didorong oleh sektor jasa.
Baca Juga
Laporan tersebut mendahului data penggajian nonpertanian resmi, yang akan dirilis pada hari Jumat (10/1/2025) nanti. Laporan pekerjaan yang lebih kuat dari yang diharapkan dapat memperkuat pendekatan agresif The Fed, karena pengetatan pasar tenaga kerja akan membuat tekanan inflasi tetap tinggi.
Beberapa analis percaya bahwa melonjaknya imbal hasil obligasi dapat menghancurkan Bitcoin, altcoin, dan aset lainnya. Dalam catatan terbaru, Mark Zandi, Kepala Ekonom di Moody's, memperingatkan bahwa meningkatnya defisit di bawah Presiden AS Donald Trump dapat mendorong imbal hasil lebih tinggi. Hal itu, pada gilirannya, akan menyebabkan rotasi dari aset berisiko seperti kripto ke dana pasar uang.

