Harga Minyak Melaju Naik Dipicu Optimistis Pemulihan Ekonomi China
JAKARTA, investortrust.id - Pada pekan pagi ini, Jumat (3/1/2025) harga minyak terpantau masih bertahan pada tren bullish ke posisi US$ 76,09 per barel.
Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya ekspektasi akan pemulihan ekonomi China dan potensi kenaikan jual minyak Saudi. Meski, potensi peningkatan pasokan AS membatasi kenaikan harga lebih lanjut.
Dalam pandangan riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) Bank sentral China mengatakan kemungkinan akan memangkas suku bunga dari level saat ini di waktu yang tepat pada tahun 2025.
“Di mana pemangkasan suku bunga utama China terakhir kali dilakukan pada akhir September dari 1,7% menjadi 1,5%,” tulis riset ICDX, Jumat (3/1/2025).
Baca Juga
Berita tersebut menyusul komentar dari Presiden China Xi Jinping sebelumnya yang menjanjikan penerapan kebijakan yang lebih proaktif untuk mendorong pertumbuhan selama tahun 2025 menambah keyakinan akan pertumbuhan ekonomi di negara importir minyak terbesar pertama dunia itu
Turut mendukung pergerakan harga, perusahaan minyak negara Saudi Aramco kemungkinan akan menaikkan harga jual resmi minyak mentah (OSP) untuk pengiriman bulan Februari ke pasar Asia, untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, sebesar 20 hingga 50 sen per barel.
“OSP Saudi yang biasanya dirilis sekitar tanggal lima setiap bulan ini juga menjadi tren harga untuk produsen Timur Tengah lainnya seperti Iran, Kuwait, dan Irak, yang bersama-sama memengaruhi pasokan sekitar 9 juta bph minyak mentah ke Asia,” tulis riset ICDX.
Sementara itu, para eksekutif perusahaan energi AS mengharapkan waktu perizinan yang lebih cepat untuk melakukan pengebiran di lahan federal di bawah Presiden terpilih Donald Trump, ungkap survei Federal Reserve Bank of Dallas terhadap 134 perusahaan energi yang dirilis pada hari Kamis.
Baca Juga
Tim transisi Trump berencana akan segera meluncurkan paket energi yang lebih luas, mencakup persetujuan izin ekspor untuk proyek gas alam cair (LNG) baru dan peningkatan pengeboran minyak di darat maupun laut.
“Hasil survei tersebut mengindikasikan potensi peningkatan produksi energi AS di masa mendatang,” paparnya.
Masih dari AS, badan statistik EIA melaporkan stok minyak mentah dalam sepekan turun sebesar 1,18 juta barel, lebih rendah dari prediksi awal yang memperkirakan stok akan turun sebesar 2,75 juta barel.
Selain itu, stok bensin dilaporkan melonjak naik sebesar 7,72 juta barel, jauh melebihi ekspektasi yang memperkirakan stok akan naik sebesar 700 ribu barel. “Laporan yang dirilis untuk pekan yang berakhir 27 Desember itu mengindikasikan permintaan yang lesu di pasar energi AS,” urainya.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memperkirakan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 75 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 71 per barel.

