Pertumbuhan Positif Manufaktur China Dorong Kenaikan Harga Minyak
JAKARTA, investortrust.id - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, Senin (3/3/2025) harga minyak terpantau bergerak menguat didukung oleh sentimen dari rilisnya data positif ekonomi terbaru China, dan potensi gangguan pasokan minyak melalui jalur pipa Ceyhan Turki.
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) memaparkan, aktivitas manufaktur China berkembang pada laju tercepat dalam tiga bulan pada Februari karena pesanan baru dan volume pembelian yang lebih tinggi menyebabkan peningkatan produksi yang solid.
“PMI manufaktur resmi naik menjadi 50,2 pada bulan Februari dari 49,1 bulan sebelumnya, yang sekaligus merupakan level tertinggi sejak November. Untuk pertumbuhan aktivitas nonmanufaktur, yang mencakup jasa dan konstruksi, naik menjadi 50,4 pada bulan Februari, dari 50,2 pada bulan Januari,” tulis riset ICDX Senin, (3/3/2025).
Baca Juga
Harga Minyak Tertekan Setelah Trump Kembali Tambahkan Tarif untuk China
Turut mendukung pergerakan harga, delapan perusahaan minyak internasional yang beroperasi di wilayah Kurdistan menyatakan tidak akan melanjutkan ekspor minyak melalui Ceyhan, Turki, karena belum ada kejelasan tentang perjanjian komersial dan jaminan pembayaran untuk ekspor masa lalu dan masa depan.
“Menanggapi pernyataan tersebut, Turki menekankan agar Ceyhan dapat beroperasi dengan kapasitas maksimal setelah diperbolehkannya kembali memasok minyak dari jaringan pipa tersebut, kata Menteri Energi Turki Alparslan Bayraktar pada hari Minggu,” terang riset tersebut.
Sementara itu, data EIA menunjukkan produksi minyak mentah mencapai 13,491 juta bph pada bulan Desember, naik dari 13,314 juta bph pada bulan November, dan sekaligus melampaui rekor tertinggi sebelumnya sebesar 13,436 juta pada bulan Oktober 2023.
“EIA juga menambahkan di sisi permintaan mengalami peningkatan sebesar 198.000 bph menjadi 20,433 juta bph pada bulan Desember, yang merupakan kenaikan terbesar sejak Oktober 2024,” jelasnya.
Baca Juga
Pemerintah Tegas Larang Ekspor Minyak Mentah, Aturan Sudah Ada
Masih dari AS, perusahaan energi AS menambah jumlah rig minyak dan gas untuk minggu kelima berturut-turut, pertama kalinya sejak Mei 2022.
Jumlah rig minyak dan gas dilaporkan naik satu rig menjadi 593 rig untuk penutupan pekan yang berakhir 28 Februari, level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juni. “Laporan tersebut biasanya menjadi indikator awal untuk melihat arah produksi energi AS di masa mendatang,” ulasnya.
ICDX melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 73 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 68 per barel.

