BEI Ungkap Alasan IPO 2024 Sepi, Apa Katanya?
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkap alasan aktivitas penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada 2024 sepi sehingga tidak tercapai target.
Menurut Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, sepinya aktivitas IPO tidak hanya terjadi di Indonesia. Hal serupa juga dialami negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN.
“Secara global, seluruh dunia mengalami penurunan, baik dari sisi jumlah perusahaan tercatat, maupun dari sisi jumlah penggalangan dana. Penyebab yang pertama adalah hampir 70 negara di dunia mengadakan pemilu sehingga terjadi wait and see,” ujar Nyoman, menjawab Investortrust, baru-baru ini.
Pemilihan pemerintah baru dengan kebijakan yang baru, disebut-sebut membuat para pengusaha mengambil posisi wait and see karena menunggu kebijakan tersebut.
Sebanyak 70 negara yang menjalani Pemilu, mewakili 60% PDB dunia. Indonesia pun menjadi salah satu negara yang menggelar pesta demokrasi tersebut di tahun 2024.
“Kita baru selesai (Pemilu) di akhir tahun 2024, sehingga para pemerintah ikut menunggu kan, wait and see. Jadi kita juga turun,” imbuh Nyoman.
Baca Juga
Sedangkan pada Pembukaan Perdagangan BEI Tahun 2025 pagi ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan bahwa nilai penghimpunan dana dari aktivitas IPO di Indonesia mengalami penurunan terdalam.
Total penghimpunan dana dari IPO di Indonesia pada 2024 tercatat sebesar US$ 0,9 miliar, turun 74% dibandingkan penghimpunan dana tahun 2023 yang mencapai US$ 3,6 miliar. Penurunan jumlah ini juga dialami Thailand, namun mereka hanya mengalami koreksi 3,8%, dari US$ 1,3 miliar menjadi US$ 0,8 miliar.
Sedangkan Malaysia terhitung mengalami pertumbuhan penghimpunan dana IPO, yakni 105% (year on year/yoy) dari US$ 0,8 miliar pada 2023 menjadi US$ 1,7 miliar pada 2024. Selanjutnya, pertumbuhan tertinggi diraih Filipina yang sebesar 164% (yoy), namun dengan nilai penghimpunan dana yang relatif kecil yakni dari US$ 0,1 miliar menjadi US$ 0,2 miliar.
Dilihat dari jumlah IPO, Indonesia tetap menjadi negara dengan penurunan terbesar, yakni 48% (yoy) dari 79 menjadi 41 emiten baru. Penurunan jumlah IPO juga dialami Thailand dan Singapura, masing-masing 23% dan 33% menjadi 31 dan 4 saham baru di bursa mereka. Sedangkan jumlah IPO di Malaysia tercatat meningkat 53% (yoy) dari 32 pada 2023 menjadi 49 pada 2024.
Namun dalam rata-rata kawasan, jumlah IPO di ASEAN terhitung turun 20,99% (yoy) dari total 162 emiten baru menjadi 128 IPO.
Nyoman pun menegaskan, BEI membukukan pencapaian penerbitan efek sejumlah 680 efek sepanjang 2024 atau 200% dari yang telah ditargetkan sebanyak 340 penerbitan efek. Pencapaian tersebut juga lebih tinggi 176% bila dibandingkan pencapaian jumlah penerbitan efek pada 2023.
“Apa yang memberikan kontribusi? Ada structure warrant, ada obligasi, surat utang, dan sukuk. ETF juga memberikan kontribusi. Sehingga kalau melihat itu, lihatlah secara holistik,” jelas Nyoman.
Dia juga turut mengungkap bahwa permohonan pernyataan pendaftaran saham secara umum tidak mengalami penurunan sepanjang 2024. Namun bursa mengakui ada beberapa perusahaan yang mengalami pembatalan pencatatan saham.
Baca Juga
Pembatalan dimaksud, berupa penundaan dari calon perusahaan tercatat, maupun penolakan dari bursa sehubungan dengan fokus bursa dalam segi kondisi keuangan, operasional dan aspek hukum.”Termasuk going concern perusahaan,” imbuhnya.
Meski demikian, aktivitas penerbitan obligasi dan sukuk, serta instrumen efek lainnya di bursa diklaim meningkat. Hal ini menunjukkan perusahaan tetap memanfaatkan pasar modal dalam bentuk instrumen pendanaan perusahaan yang berbeda, disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
“Kami memahami menjadi perusahaan terbuka dan tercatat di BEI merupakan keputusan strategis bagi setiap perusahaan dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing perusahaan. Keputusan tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yakni faktor internal dan faktor eksternal,” jelas Nyoman lebih lanjut.
Dari internal perusahaan, kesiapan perusahaan disebut jadi salah satu faktor yang sangat krusial. Perusahaan harus mempertimbangkan berbagai aspek di antaranya kinerja keuangan dan pemenuhan GCG sesuai ketentuan.
Selain faktor internal tersebut, terdapat berbagai faktor eksternal yang juga mempengaruhi rencana IPO perusahaan. Termasuk di antaranya kinerja sektor atau industri, kondisi makro ekonomi global dan domestik seperti tingkat suku bunga dan inflasi.
“Harapannya, dengan telah usainya pesta demokrasi pada 2024 dan iklim politik yang kondusif pasca-pelantikan presiden dan wakil presiden Indonesia, dapat mendorong kepercayaan investor. Kemudian meningkatkan optimisme serta minat perusahaan untuk melakukan IPO dan tercatat di BEI,” tutup Nyoman

