Target 2024 Meleset, BEI Bidik 66 Perusahaan IPO pada 2025
JAKARTA, investortrust.id – Target Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengantarkan 62 perusahaan melantai di bursa pada 2024 meleset. Namun self regulatory organization (SRO) ini kembali membidik jumlah penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham yang lebih tinggi dari target tahun lalu, yakni menjadi 66 perusahaan.
Tahun ini, bursa telah mencatatkan 41 saham baru dengan total penghimpunan dana Rp 14,3 triliun. Padahal saat penutupan perdagangan BEI 2023, mereka menargetkan penambahan 62 perusahaan tercatat pada 2024.
Sedangkan tahun depan, bursa optimistis mengantarkan 66 perusahaan yang akan melantai di pasar modal Indonesia.
“Kalau bicara pencatatan efek baru, jumlahnya ada 407. Tidak hanya terbatas kepada saham, tetapi juga ada obligasi korporasi, efek bersifat utang, sukuk, waran terstruktur, KIK, sampai SSF. Itu jumlahnya adalah 407 efek baru. Kalau dilihat untuk saham saja, targetnya ada 66 IPO baru,” papar Direktur Utama BEI Iman Rachman dalam Konferensi Pers Penutupan Perdagangan BEI 2024, di Gedung BEI, Jakarta, Senin (30/12/2024).
Baca Juga
Namun bursa belum menjelaskan, apa saja proyeksi katalis pendukung pada 2025 yang melatarbelakangi target perseroan. Iman juga belum menjawab pertanyaan pewarta, terkait penyebab berkurangnya jumlah IPO tahun ini dibandingkan 2023.
Sebagai informasi, tahun lalu bursa mencetak jumlah IPO tertinggi, yakni sebanyak 79 perusahaan dengan total penghimpunan dana Rp 54,1 triliun. Dengan target IPO sebanyak 66 perusahaan pada 2025, bursa menginformasikan saat ini sudah ada 21 perusahaan yang antre atau masuk pipeline untuk melantai di bursa tahun depan.
Klasifikasi aset perusahaan yang berada dalam pipeline berdasarkan POJK Nomor 53/POJK.04/2017, terdiri dari satu perusahaan aset skala kecil atau di bawah Rp 50 miliar. Ditambah dua perusahaan skala menengah dengan aset antara Rp 50-250 miliar dan 19 perusahaan skala besar beraset di atas Rp 250 miliar.
Baca Juga
Sementara, berdasarkan klasifikasi sektornya, calon emiten dari sektor konsumer primer (consumer non-cyclicals) mendominasi dengan jumlah lima perusahaan. Selanjutnya ada masing-masing tiga perusahaan dari sektor barang baku, energi, kesehatan dan industri yang bersiap melantai di bursa.
Sedangkan dari sektor keuangan, ada dua perusahaan yang mau menyelenggarakan IPO. Di sisi lain, ada dua perusahaan dari sektor properti dan real estat yang perdana mau menawarkan sahamnya secara umum.

