Kalbe Farma (KLBF) Operasikan Fasilitas Produksi Dialyzer Pertama di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) akan segera mengoperasikan fasilitas produksi dialyzer secara komersial. Pabrik ini merupakan fasilitas pertama di Indonesia yang akan memproduksi alat kesehatan (alkes) untuk penanganan penyakit ginjal tersebut.
Dialyzer merupakan bahan habis pakai (consumables) penting dalam tindakan hemodialisis atau cuci darah. Direktur Forsta Kalmedic Global, Yvone Astri Della Sijabat menjelaskan, hemodialisa atau cuci darah adalah prosedur rutin seumur hidup yang dilakukan 2-3 kali sepekan.
Proses tersebut, dijalani pasien gagal ginjal kronis di tahap lima (end stage renal disease) dengan fungsi ginjal sudah sangat rendah atau kurang dari 15%. Ini merupakan sebuah prosedur di mana mesin dialisis dan dialyzer digunakan untuk membersihkan darah.
“Dokter membuat akses ke pembuluh darah, biasanya melalui operasi minor di lengan, untuk mengalirkan darah ke dalam dialyzer yang berfungsi sebagai ginjal buatan,” tutur Yvone dikutip pada Jumat (27/12/2024).
Sebagai bahan habis pakai yang penting dalam tindakan hemodialisis, 99% pasien cuci darah dijamin oleh BPJS. Kebutuhan hemodialisis di Indonesia juga tercatat meningkat setiap tahunnya.
BPJS mencatat, dari 267 juta jumlah populasi Indonesia, sebanyak 1,5 juta orang merupakan pasien gagal ginjal kronis dengan 159.000 orang menjalani cuci darah.
Berdasarkan data BPJS Kesehatan, cuci darah dinyatakan sebagai tindakan dengan biaya terbesar keempat pada pengeluaran BPJS. Tahun lalu, pengeluaran BPJS untuk hemodialisis mencapai Rp 2,9 triliun.
Fakta lainnya, sebanyak 85% pasien cuci darah ada di rentang usia produktif. Hal ini menyebabkan tingginya dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan jika kualitas hidup pasien gagal ginjal tidak terjaga.
“Hal ini terutama penting untuk memastikan kita bisa mencapai Indonesia emas di tahun 2045,” imbuh Yvone.
Data tersebut menunjukkan perlunya penyediaan alat kesehatan dialyzer berkualitas. Keberadaan produk lokal dialyzer dipercaya akan memastikan pemanfaatan dana BPJS, tidak hanya untuk akses kesehatan bagi pasien gagal ginjal, tetapi juga untuk mendukung industri alkes lokal.
Hal tersebut juga dipercaya dapat memastikan dana BPJS akan menggerakkan ekonomi dalam negeri. Selain itu, dialyzer produksi dalam negeri diyakini dapat membantu mempermudah dan memperluas akses ke wilayah-wilayah di Indonesia.
Melalui anak usahanya, yakni PT Forsta Kalmedic Global, Kalbe berhasil membangun fasilitas produksi dialyzer yang terdaftar menggunakan nama RenaCare.
Produk tersebut dipasarkan oleh PT Renalmed Tiara Utama. Forsta menjadi perusahaan pertama di Indonesia dan nomor dua di ASEAN yang memiliki fasilitas produksi dialyzer.
Baca Juga
Bisnis Distribusi Kalbe Farma (KLBF) Jadi Penyumbang Pendapatan Terbesar
Direktur Kalbe Farma, Kartika Setiabudy menyatakan, pihaknya terus mendukung program pemerintah di bidang kemandirian kesehatan. Termasuk yang ada dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN), di mana industri alat kesehatan menjadi sektor prioritas.
Pengembangan sektor prioritas itu turut meningkatkan TKDN industri alat kesehatan dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, terutama pengadaan pemerintah.
“Dialyzer kami juga telah meraih sertifikasi CPAKB (cara pembuatan alat kesehatan yang baik) dari Kementerian Kesehatan,” ujar Kartika

