Bisnis Distribusi Kalbe Farma (KLBF) Jadi Penyumbang Pendapatan Terbesar
JAKARTA, investortrust.id – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) telah mendiversifikasi bisnis menjadi empat kegiatan usaha utama, yakni segmen obat resep, produk kesehatan, nutrisi, serta distribusi dan logistik.
Hingga September 2024, segmen usaha distribusi dan logistik Kalbe menyumbang pendapatan terbesar dari penjualan secara konsolidasi.
“Sebenarnya empat (segmen) ini boleh dibilang cukup balance. Memang kalau dilihat sekarang secara kontribusi, distribusi paling besar sekarang sampai 35% ya,” ungkap Direktur Keuangan Kalbe Farma Kartika Setiabudy dalam podcast Konvergensi Investortrust episode 22, baru-baru ini, Senin (2/12/2024).
Melansir laporan keuangan kuartal III-2024, penjualan bersih Kalbe dari segmen distribusi dan logistik mencatatkan angka Rp 7,87 triliun atau 32,5% dari total pendapatan perseroan sebesar Rp 24,23 triliun.
“Setelah itu (distribusi), kedua adalah obat resep obat mungkin sekitar 28% (kontribusi). Setelah itu adalah nutrisi jadi produk-produk susu itu 25%, sisanya produk kesehatan sekitar 13%,” sambung Kartika.
Baca Juga
Kalbe Farma (KLBF) Susun Peta Jalan Menuju Net Zero Emission
Kontributor pemasukan terbesar kedua adalah segmen bisnis obat resep dengan perolehan Rp 6,89 triliun, disusul nutrisi Rp 6,17 triliun dan produk kesehatan Rp 3,28 triliun. Sedangkan secara keseluruhan, total penjualan bersih Kalbe sepanjang Januari-September 2024 naik 7,43% dari Rp 22,56 triliun pada periode sama tahun lalu.
Dari lini bisnis obat resep, manajemen mengakui bahwa penjualan obat generik tanpa merek jadi penopang kinerja yang berkelanjutan bagi perusahaan. Segmen ini menggambarkan penjualan obat-obatan yang dipakai atau diresepkan oleh dokter.
Kalbe telah memiliki portfolio lengkap untuk segala segmen obat resep. Dimulai dengan obat-obatan generik bermerek (branded generics), hingga obat berlisensi, dan generik tanpa merek.
“Mungkin ada perusahaan-perusahaan multinasional yang tidak masuk sendiri ke Indonesia tetapi melalui lisensi (ke Kalbe), bisa kami jual obatnya di Indonesia. Tetapi saya kira yang menarik adalah obat-obatan generik yang benar-benar tanpa merek,” ujar Kartika.
Sejak Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dimulai 10 tahun lalu, Kalbe berpartisipasi dan banyak memproduksi obat-obatan generik tanpa merek khusus untuk ini. Sekarang, kontribusi penjualan bersih obat generik tanpa merek tersebut bisa mencapai 25% pada divisi obat resep Kalbe.
Manajemen pun menegaskan bahwa Kalbe akan tetap mendukung program pemerintah pada BPJS, melalui pasokan obat generik tanpa merek, meski margin keuntungan obat jenis ini disebut-sebut tipis.
“Saya kira sebagai perusahaan yang bergerak di bidang obat, tentunya harus ada sisi sosialnya juga. Ini kan menjadi satu dengan bisnis kami, bagaimana Kalbe bisa meningkatkan akses terhadap kesehatan,” tegas Kartika.
Dia mengungkapkan, penjualan obat generik tanpa merek terus bertumbuh, seiring berbagai dukungan pemerintah dalam program-program BPJS. Oleh karena itu, perseroan masih berkomitmen membantu kontribusi menyediakan obat-obatan berkualitas walau dalam bentuk generik tanpa merek.
Direksi mengakui bahwa upaya mempertebal margin profit dari obat generik, cukup menantang, terutama pada awal pemberlakuan kewajiban masyarakat mendaftar BPJS kesehatan.
Baca Juga
Laba Atribusi Kalbe Farma (KLBF) Naik 15,2% hingga Kuartal III-2024, Nilainya Jadi Segini
“Tentunya saat itu pemerintah juga masih meningkatkan tingkat coverage terhadap masyarakat. Dimulai dari 0 sampai sekarang sudah ter-cover 95%, di tahun-tahun awal lumayan cukup menantang situasinya. Kami sebagai pengusaha Farmasi juga harus menyesuaikan diri,” papar Kartika.
Dari sisi harga, pemerintah dituntut memberikan harga paling baik agar program BPJS bisa berkelanjutan. Sedangkan pengusaha bidang farmasi harus mampu bertahan di dalam kondisi tersebut.
Meski margin keuntungan segmen obat tersebut diakui lebih rendah dibandingkan produk lain, Kartika menegaskan bahwa perusahaan harus melakukan berbagai perbaikan dari sisi operasional. Tujuannya, meraih margin keuntungan yang bisa berkelanjutan ke depannya.
“Setelah 10 tahun, kami gembira telah berpartisipasi di segmen unbranded generics walau margin tipis tapi kalau volume besar kan,” pungkasnya. (CR-10)

