Ancaman Tarif Trump Terhadap Permintaan Uni Eropa Angkat Harga Minyak
JAKARTA, investortrust.id - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, Senin (23/12/2024) harga minyak terpantau naik US$ 73,20 per barel didukung oleh potensi peningkatan permintaan energi di Uni Eropa (UE) dalam skala besar, dan isyarat meningkatnya tensi terkait jalur perdagangan utama Terusan Panama. Meski demikian, sinyal memanasnya tensi antara China dengan AS memberikan tekanan pada harga minyak.
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) memaparkan Presiden terpilih AS Donald Trump pada hari Jumat melontarkan ancaman terhadap Uni Eropa untuk meningkatkan impor minyak dan gas AS dalam skala besar atau akan menghadapi tarif atas ekspor dari blok tersebut yang mencakup barang-barang seperti mobil dan mesin.
"Komisi Eropa mengatakan siap berdiskusi dengan Trump untuk memperkuat hubungan kedua negara, termasuk di sektor energi. Saat ini ekspor minyak mentah AS ke Eropa mencapai sekitar 2 juta bph, atau setara dengan lebih dari setengah dari total ekspor AS, dan sisanya diekspor ke Asia," tulis ICDX, Senin (23/12/2024).
Selain itu, Trump pada hari Minggu menegaskan akan merebut kembali kendali AS atas Terusan Panama akibat pengenaan biaya yang dianggap berlebihan untuk menggunakan jalur tersebut, dan memperingatkan tentang potensi kendali China atas jalur yang berkontribusi terhadap 2,5% dari perdagangan laut global tersebut.
Baca Juga
Rusia dan Iran Terancam Sanksi Lebih Ketat, Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi Tiga Minggu
Ancaman Trump tersebut disusul dengan unggahan provokatif di media sosial Trump yang mendapat kecaman keras dari Presiden Panama Mulino, yang pada Minggu sore mengatakan bahwa kemerdekaan Panama tidak dapat dinegosiasikan dan bahwa China tidak memiliki pengaruh terhadap pengelolaan di jalur itu.
"Turut mendukung pergerakan harga, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada hari Minggu menegaskan bahwa Israel akan terus bertindak melawan Houthi yang didukung Iran di Yaman, tepat sehari pasca sebuah rudal yang ditembakkan dari Yaman jatuh di wilayah Tel Aviv," ulasnya.
Baca Juga
Sementara itu, tensi antara China dan AS berpotensi meningkat pasca Presiden Biden yang pada hari Jumat mengumumkan bahwa AS menyetujui untuk memberikan bantuan senilai US$ 571,3 juta untuk dukungan pertahanan dan persetujuan penjualan potensial peralatan militer senilai US$ 265 juta kepada Taiwan. Juru bicara kementerian luar negeri China pada hari Minggu mengkritik keras bantuan militer baru AS ke Taiwan itu, dan menegaskan akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan dan integritas teritorialnya.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memproyeksikan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 72 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 67 per barel.

