Program 3 Juta Rumah Cerahkan Penjualan Semen, Mana yang Tercuan SMGR atau INTP?
JAKARTA, investortrust.id – CGS International Sekuritas Indonesia menyebutkan pelaksanaan program 3 juta rumah akan menjadi amunisi penopang kinerja keuangan dan saham emiten semen Indonesia. Program tersebut diprediksi mendongkrak permintaan semen sebantak 4,6 juta ton per tahun.
Sedangkan pengadaan bahan baku semen berkontribusi sebanyak 5% terhadap total biaya untuk membangun satu unit rumah sederhana di Indonesia. “Menurut pandangan kami seharusnya pemerintah mengalihkan anggarannya dari infrastruktur ke proyek perumahan untuk program 3 juta rumah, karena dampak positinya besar,” tulis tim riset CGS Sekuritas dalam risetnya yang dikutip Jumat (13/12/2024).
Oleh daripada itu, CGS Sekuritas mempertahankan rekomendasi Overweight saham sektor semen didukung program 3 juta rumah yang bisa memulihkan volume penjualan semen kantong. Kenaikan ini diprediksi mendorong pertumbuhan EPS gabungan SMGR dan INTP menjadi 17% di 2025.
Baca Juga
Menteri Ara Sebut Anggaran 2025 Sebesar Rp 5,27 Triliun Hanya Bisa Bangun 255 Ribu Rumah
“Dengan potensi pertumbuhan volume penjualan semen kantong yang lebih besar, dibandingkan dengan semen curah, kami memilih saham INTP sebagai pilihan teratas,” ungkapnya.
CGS menilai bahwa permintaan semen curah di Indonesia sangat berkorelasi kuat dengan belanja infrastruktur pemerintah, sementara permintaan semen kantong lebih didorong oleh jumlah uang beredar (M2), harga minyak Brent dan inflasi.
Seiring lebih rendahnya anggaran infrastruktur untuk tahun 2025, yaitu Rp 400 triliun atau turun 5% yoy, CGS memiliki memprediksi bahwa penjualan semen curah akan turun 4% pada 2025.
Kendati demikian, CGS memperkirakan penjualan semen kantong akan tumbuh 3,7% pada tahun 2025 didukung oleh kebijakan pemerintah baru, terutama yang menguntungkan segmen masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, yang kemungkinan akan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga
Semen Indonesia (SMGR) Tingkatkan Belanja Modal Jadi Rp 2 Triliun, Buat Apa?
CGS memperkirakan permintaan semen domestik Indonesia tumbuh 0,5% pada 2024, sebanyak 1,4% pada 2025, dan 3,6% pada 2026. “Oleh karena itu, kami memperkirakan tingkat utilisasi sektor semen secara bertahap akan meningkat dari 63% di 2024 menjadi 67% di 2027,” terangnya.
CGS Sekuritas memberikan rekomendasi ADD saham PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk (INTP) dengan target harga Rp8.100. Menurutnya, Indocement (INTP) adalah perusahaan semen terbesar kedua di Indonesia dengan 29% pangsa pasar domestik, berdasarkan penjualan sampai Oktober 2024 menurut Asosiasi Semen Indonesia (ASI).
“Kami memperkirakan marjin EBITDA INTP akan pulih tahun 2025: 1) ASP yang lebih tinggi, 2) peningkatan volume domestik, dan 3) akuisisi terbarunya Semen Grobogan (unlisted),” jelasnya.
Baca Juga
Pembangunan 3 Juta Rumah Digaungkan, Saham SMGR dan INTP makin Menarik
CGS juga merekomendasikan add saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dengan target harga Rp4.400, mengingat SMGR adalah perusahaan semen terbesar di Indonesia berdasarkan kapasitas pabrik dan volume penjualan pada hingga Oktober 2024 menurut Asosiasi Semen Indonesia (ASI).
“Menurut kami, SMGR telah memasuki area jenuh jual pada valuasi saat ini. Kami memperkirakan laba bersih akan pulih pada FY25F ditopang membaiknya permintaan domestik dan kenaikan ASP,” terang CGS.
Dalam sebulan terakhir, saham INTP terpantau menguat 425 poin (6,14%) menuju 7.350. Sementara itu, saham SMGR justru mengalami pelemahan 260 poin (7,86%) menuju 3.400.
“Harga saham SMGR dan INTP saat ini menyiratkan bahwa investor hanya mengasumsikan volume penjualan domestik jangka panjang (yaitu 2025-30F) pertumbuhan volume penjualan domestik sebesar 1% per tahun, dengan ASP domestik tumbuh 0.5% per tahun,” terangnya.
Grafik Saham SMGR dan INTP

