Harga Minyak Dunia Terkonsolidasi Dibayangi Beragam Sentimen Pasar
JAKARTA, investortrust.id - Pada penutupan pekan pagi ini Jumat, (13/12/2024) harga minyak terpantau bergerak terkonsolidasi di level US$ 70 per barel dibayangi beragam sentimen.
Dalam riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX), pandangan pesimis jangka pendek International Energy Agency (IEA) dan potensi peningkatan tensi China dan Amerika Serikat (AS() memberikan tekanan pada harga.
Dalam laporan pasar minyak bulanan pada hari Kamis, International Energy Agency (IEA) memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini direvisi turun menjadi 840 ribu bph dari proyeksi sebelumnya sebesar 921 ribu bph.
“Untuk permintaan tahun 2025 diperkirakan meningkat sebesar 1,1 juta bph pada tahun 2025, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 990 ribu bph,” tulis riset ICDX, Jumat (13/12/2024).
Baca Juga
Dari sisi pasokan, IEA memproyeksikan akan meningkat sebesar 630 ribu bph pada tahun 2024 dan 1,9 juta bph pada tahun 2025. Proyeksi IEA tersebut memberikan tekanan dalam jangka pendek terhadap pasar minyak melihat dari permintaan yang turun, namun dari sisi pasokan terjadi peningkatan.
Turut membebani pergerakan harga, kementerian pertahanan China pada hari Jumat menegaskan untuk tidak akan bersikap lunak atas aktivitas Taiwan yang dianggap mencari dukungan pasukan asing untuk mencari kemerdekaan.
Baca Juga
Harga Minyak Dunia Naik Didorong Risiko Geopolitik dan Stimulus China
Pernyataan tersebut menyusul kunjungan Presiden Taiwan baru-baru ini ke Hawai dan wilayah AS di Guam. Sinyal peningkatan tensi tersebut berpotensi turut mendorong tensi antara China dengan AS, yang sejauh ini menunjukkan sikapnya dalam mendukung Taiwan.
Sementara itu, China berjanji akan menambah defisit anggaran, menerbitkan lebih banyak utang, dan melonggarkan kebijakan moneter guna mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi yang stabil untuk bersiap dalam menghadapi lebih banyak ketegangan perdagangan dengan AS saat Donald Trump kembali menjabat, ungkap pernyataan resmi yang disampaikan dalam pertemuan tahunan para pemimpin tertinggi China pada hari Kamis.
“Pernyataan tersebut meningkatkan harapan akan pertumbuhan ekonomi di negara importir minyak terbesar pertama dunia itu,” tulis riset tersebut.
Dari Timur Tengah, kepala pengawas senjata kimia yang tergabung dalam Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW), Fernando Arias pada hari Kamis mengatakan telah melihat sinyal positif untuk mengamankan dan memusnahkan amunisi kimia yang tersisa di Suriah.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memperkirakan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 72 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 68 per barel.

