Harga Minyak Dunia Naik Didorong Risiko Geopolitik dan Stimulus China
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak menguat ke level US$ 68,19 per barel pada Selasa (10/12/2024) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan janji China untuk melonggarkan kebijakan moneter guna mendukung pertumbuhan ekonomi.
Menurut riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX), penggulingan Presiden Suriah Bashar al-Assad menciptakan ketidakpastian baru di kawasan Timur Tengah. Meski Suriah bukan produsen minyak utama, posisinya yang strategis dan hubungannya dengan Rusia dan Iran berpotensi meningkatkan ketidakstabilan regional. Pemberontakan di negara tersebut menandai akhir dari perang saudara selama 13 tahun dan dinasti Assad yang berkuasa lebih dari lima dekade.
Di sisi lain, China memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter untuk pertama kalinya dalam 14 tahun guna mendukung pertumbuhan ekonominya.
" Langkah ini, yang termasuk memperluas jumlah uang beredar dan meningkatkan konsumsi domestik. Diharapkan menjadi pendorong utama bagi harga minyak mentah, mengingat China adalah salah satu importir minyak terbesar dunia," tulis riset ICDX, Selasa (10/12/2024).
Baca Juga
China Terapkan Kelonggaran Moneter, Harga Minyak Mentah Menguat Lebih dari 1%
Sementara itu, pada pertemuan sebelumnya, perlambatan inflasi China yang sedang berlangsung, dengan IHK turun 0,6%, menunjukkan bahwa ekonomi mungkin menghadapi tantangan lebih lanjut.
Pada pagi ini, data perdagangan China di bulan November menunjukkan kinerja yang beragam, dengan ekspor tumbuh 6,7% (yoy), meskipun lebih lambat dari yang diharapkan, sementara impor turun 3,9%, mengindikasikan lemahnya permintaan domestik. Surplus perdagangan melebar menjadi US$ 97,44 miliar.
Baca Juga
Di Amerika Serikat, perusahaan jasa ladang minyak meningkat mempekerjakan pada bulan November, menambah 1.890 pekerjaan di sektor ini, menurut data dari kelompok perdagangan Energy Workforce & Technology Council, yang merupakan indikasi adanya lebih banyak pengeboran dan produksi minyak yang lebih tinggi. ICDX menilai, fokus pasar ke depan menunggu laporan mingguan stok minyak dari American Petroleum Institute (API) dan pertemuan OPEC.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memproyeksikan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 70,50 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 63,50 per barel.

