Pengamat Pertanyakan Rencana Pemerintah Genjot Produksi Minyak dan Batu Bara
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menyoroti kebijakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang ingin menggenjot produksi minyak dan batu bara.
Menurut dia, apa yang direncanakan oleh Bahlil tersebut bertentangan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto yang ingin mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) dalam upaya mewujudkan swasembada energi.
“Bukannya mengupayakan komitmen Prabowo dalam pengembangan EBT, kebijakan Bahlil justru mengutamakan pengembangan energi fosil. Padahal, investor besar sudah meninggalkan sektor hulu minyak Indonesia karena tidak feasible lagi,” kata Fahmy Radhi kepada Investortrust, Senin (9/12/2024).
Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa akan menghentikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara dalam waktu 10 tahun. Namun, di sisi lain Bahlil justru mendorong pengusaha tambang untuk meningkatkan produksi batu bara.
Baca Juga
“Kalau diteruskan kebijakan-kebijakan Bahlil tersebut dikhawatirkan akan semakin mencederai komitmen Presiden Prabowo. Ada urgensi untuk mengevaluasi kebijakan-kebijakan Bahlil tersebut,” ucap Fahmy Radhi.
Sebagai informasi, Bahlil telah menyiapkan tiga jurus untuk meningkatkan lifting minyak nasional. Dia menerangkan bahwa saat ini lifting minyak Indonesia berada di angka 600.000 barrel oil per day (BOPD). Dia pun menargetkan peningkatan 200.000 BOPD.
“Yang pertama adalah kita harus segera melakukan eksplorasi. Eksplorasi terhadap potensi-potensi sumur-sumur minyak baru. Yang kedua adalah bagaimana kita melakukan optimalisasi terhadap sumur-sumur minyak yang ada,” ujar Ketua Umum Partai Golkar tersebut.
Bahlil memaparkan, 65% dari total lifting minyak saat ini dikuasai oleh PT Pertamina (Persero) dan 26% oleh Exxon. Menurutnya, harus ada intervensi teknologi untuk meningkatkan lifting minyak ini, yakni salah satunya dari teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR).
“Yang ketiga adalah kita juga sedang mengidentifikasi untuk mengoptimalkan potensi sumur-sumur idle yang masih produktif. Nah, ini mungkin yang bisa kita lakukan. Selain itu, saya juga menyampaikan bahwa kita sudah harus meningkatkan peningkatan pemakaian kita pada energi baru terbarukan,” terang Bahlil.

