Fast Food (FAST) Ungkap Strategi Bangkit Usai Tutup Puluhan Gerai KFC
JAKARTA, investortrust.id – Pengelola restoran KFC di Indonesia, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), telah menutup sebanyak 47 gerai hingga kuartal III-2024. Penutupan dipicu atas penurunan tajam penjualan selama Sembilan bulan pertama ini.
Berdasarkan data, total restoran KFC di Indonesia berkurang menjadi 715 gerai hingga kini, dibandingkan posisi 31 Desember 2023 sebanyak 762 gerai. Angka ini berarti gerai FAST telah berkurang sebanyak 47 gerai.
Direktur FAST Wahyudi Martono mengatakan, faktor utama penutupan gerai ini akibat dampak secara tidak langsung ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak terhadap seruan boikot sejumlah konsumen terhadap produk terafiliasi Israel, seperti KFC.
Baca Juga
Fast Food (FAST) Suntik Modal Anak Usaha Peternakan Ayam Rp 160,42 Miliar
“Faktor ini (seruan boikot) secara langsung menyebabkan terjadinya penurunan signifikan pendapatan perseroan sejak akhir kuartal 2023 hingga 2024,” kata Wahyudi dalam paparan publik FAST yang digelar secara daring, Jumat (29/11/2024).
Penurunan penjualan, kata Wahyudi, juga dipicu atas terganggunya rantai pasok yang mengakibatkan volatilitas harga komoditas dan perubahan iklim ekstrim di beberapa kawasan yang berdampak pada produksi komoditas yang terbatas.
“Dampak keadaan ini adalah terjadinya inflation pressure kepada bahan-bahan baku yang harus dibeli perseroan,” beber dia.
Tak hanya itu, Wahyudi bilang persaingan yang semakin ketat dengan quick service restaurant (QSR) pada saat bersamaan juga disertai dengan perubahan landscape dengan adanya keadaan pasca pandemic ikut menekan penjualan KFC.
Baca Juga
Setahun Berlangsung, Petani Mulai Rasakan Efek Domino Gerakan Boikot Restoran Waralaba Ini
Derita rugi juga dipengaruhi atas pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS yang mengakibatkan kenaikan harga bahan baku impor. Pasalnya, beberapa bahan masakan untuk proses marinasi yang digunakan perseroan masih menggunakan bahan baku impor sampai sekarang. Meski tidak signifikan, tetapi tetap terdampak terhadap perseroan.
“Terakhir, adanya penurunan daya beli masyarakat yang menyebabkan jelas sekali transaksi kami. Meskipun banyak hal yang negatif, tapi kami optimis karena masih mengalami beberapa hal yang positif dan kita mengharapkan hal-hal yang menjadi challenge di tahun 2023 dan 2024 dapat diperbaiki,” terang Wahyudi.
Meski demikian, perseroan optimistis dengan strategi peningkatan produktivitas penjualan yang didukung dengan berbasis teknologi digital melalui KFCku Apps, Pay n Pick, dan layanan Drive thru dapat memberikan akses yang lebih nyaman kepada pelanggan KFC untuk pembelian take away produknya.
Grafik Saham FAST

