Fast Food Indonesia (FAST) Kantongi Rp 54,44 Miliar dari Penjualan Saham Anak Usaha
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pengelola restoran cepat saji KFC di Indonesia, berhasil mengantongi dana sebesar Rp 54,44 miliar dari penjualan sebagian saham anak usahanya, PT Jagoanya Ayam Indonesia (JAI). Saham tersebut dilepas kepada PT Shankara Fortuna Nusantara sebagai bagian dari strategi ekspansi dan efisiensi operasional perusahaan.
Meski melepas sebagian kepemilikan, FAST tetap menjadi pengendali JAI dengan menguasai 55% saham, sementara sisanya dimiliki oleh Shankara Fortuna. JAI sendiri merupakan unit usaha peternakan ayam terintegrasi yang berlokasi di Banyuwangi, Jawa Timur. Produksi JAI mencapai 42 ribu ton daging ayam per tahun, dan diproyeksikan memenuhi hingga 35% kebutuhan pasokan ayam untuk gerai KFC milik FAST selama lima tahun ke depan.
Baca Juga
Usai Private Placement, Fast Food (FAST) Tarik Fasilitas Kredit Rp 875 Miliar
“Dengan struktur kepemilikan yang baru, diharapkan fleksibilitas dan efisiensi dalam menjalankan operasional JAI dapat ditingkatkan,” tulis manajemen dalam keterangan resmi, Rabu (2/7/2025).
Penjualan saham JAI ini menjadi bagian dari langkah strategis FAST untuk memperkuat struktur pendanaan serta mendukung pertumbuhan bisnis ke depan. Sebelumnya, FAST juga telah memperoleh fasilitas kredit senilai Rp 875 miliar dari Bank Mandiri (BMRI).
Selain itu, FAST telah merampungkan aksi private placement (PMTHMETD) pada 28 Mei 2025, dengan menerbitkan 533,33 juta saham baru seharga Rp 150 per saham. Dua pembeli siaga dalam aksi ini adalah PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) dan PT Gelael Pratama, masing-masing menyerap 266,66 juta saham.
Baca Juga
Eksekusi Private Placement Fast Food (FAST), Dua Pemegang Saham Ini Cuan 146% dalam Sepekan
Pada tahun 2024, FAST membukukan rugi bersih sebesar Rp 796,7 miliar, yang memaksa perseroan melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk PHK terhadap 2.883 karyawan dan penutupan 47 gerai KFC.
Dalam laporan keuangan terakhir, jumlah gerai yang beroperasi per 31 Desember 2024 tinggal 715 unit, turun dari 762 unit pada tahun sebelumnya. Strategi penguatan bisnis kini difokuskan pada efisiensi operasional dan pengembangan rantai pasok internal, seperti lewat JAI.

