BEI Bidik 2 Juta Investor Baru 2025, Begini Strateginya
JAKARTA, investortrust.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan pertumbuhan investor pasar modal di Indonesia sebanyak 2 juta pada tahun 2025. BEI juga berfokus pada pendalaman pasar.
Hal itu diungkapkan Direktur Utama BEI Iman Rachman dalam Konferensi Pers Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Tahun 2024 secara hybrid, Rabu (23/10/2024). "Tentunya, BEI akan tetap melaksanakan serangkaian kegiatan rutin berupa pengembangan untuk perusahaan tercatat dan calon perusahaan tercatat, Anggota Bursa (AB), hingga pengembangan pasar untuk meningkatkan jumlah dan aktivitas investor pasar modal," ujar Iman.
Baca Juga
BEI Bidik Kenaikan Rata-Rata Transaksi Harian Jadi Rp 13,5 Triliun di 2025
Langkah itu dilakukan melalui kombinasi penyelenggaraan kegiatan sosialisasi, one-on-one meeting, serta workshop yang mayoritas sudah rutin dilaksanakan secara virtual melalui media online. Dukungan kepada AB juga dilakukan melalui penyediaan jasa informasi serta support teknis, dalam pengembangan sistem dan layanan kebursaan.
Melansir data BEI, hingga 18 Oktober 2024, total jumlah investor di pasar modal mencapai 14,2 juta. Ini meningkat lebih dari 2 juta investor baru atau naik 16% dari tahun 2023.
Partisipasi investor ritel pun masih terjaga selama tahun 2024, selaras dengan meningkatkan partisipasi dari investor institusi. Hal tersebut mencerminkan keyakinan investasi di pasar saham masih terjaga.
Perluasan Pasar Derivatif Keuangan
BEI juga berfokus pada pendalaman pasar melalui produk dan layanan baru, serta perluasan pasar pada derivatif keuangan. “Kami juga melakukan pengembangan sejumlah rencana kerja, yang bertujuan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan, meningkatkan pelindungan investor, dan penyediaan layanan data yang sesuai kebutuhan pelanggan. Selain itu, menyempurnakan teknologi yang digunakan oleh BEI,” kata Iman.
Iman menambahkan, secara khusus terkait penyempurnaan teknologi, BEI sedang melaksanakan Pembaruan Sistem Perdagangan dan Sistem Terdampak. Ini bertujuan untuk menyediakan sistem perdagangan yang andal dan optimal, guna mengakomodasi pengembangan pasar modal secara berkesinambungan.
"Pembaruan ini dilakukan selain karena siklus rutin 6 tahunan seiring dengan end of support, juga dikarenakan peningkatan teknologi yang mendukung low latency serta kapasitas system," ujarnya.
Baca Juga
IHSG Sesi I Terkapar Dilanda Profit Taking, Dua Saham Ini Tetap ARA

