Melesat Ungguli Sektor hingga Diburu Investor Asing, ternyata Begini Target Saham Mitratel (MTEL)
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Dayamitra Telekomuniasi Tbk (MTEL) atau Mitratel mendadak melesat pada penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (16/10/2024). Penguatan tersebut jauh mengungguli saham emiten infrastruktur telekomuniksi lainnya.
Berdasarkan data BEI, saham MTEL ditutup melesat Rp 30 (4,84%) menjadi Rp 650, bahkan saham ini sempat menyentuh rekor tertinggi harian Rp 650. Pemodal asing catatkan pembelian bersih (net buy) Rp 12,12 miliar, sehingga total net buy Oktober 2024 berjalan telah mencapai Rp 46,92 miliar.
Baca Juga
Begini Cara Mitratel (MTEL) Tekan Biaya Operator Seluler di IKN Nusantara
Penguatan saham anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ini tertinggi, dibandingkan saham emiten infrastruktur Menara telekomunikasi lainnya, seperti saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) stagnan level Rp 1.880 dan saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang justru turun Rp 5 menjadi Rp 820.
Meski saham MTEL melesat ungguli penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI hari ini, ternyata harga penutupan tersebut masih jauh di bawah target dari sejumlaha analis dalam riset terakhirnya, sehingga potensi penguatan lebih lanjut masih tetap terbuka.
Sinarmas Sekuritas dalam riset terakhirnya merekomendasikan beli saham MTEL dengan target harga Rp 860 per saham. Target tersebut mengimplikasikan perkiraan EV/EBITDA tahun 2025 sekitar 10,8 kali.
Baca Juga
Analis Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi mengatakan, ada dua faktor penting penopang pertumbuhan kinerja keuangan MTEL lebih pesat, yaitu penurunan tingkat suku bunga yang bisa memangkas beban keuangan perseroan. Berdasarkan simulasi Sinarmas Sekuritas, apabila suku bunga perbankan turun sekitar 100 bps, laba bersih perseroan berpotensi mencapai Rp 2,67 triliun tahun 2025 dan menjadi Rp 2,9 triliun pada 2026.
Faktor kedua, terang dia, ekspansi besar-besar fiber optic bakal menjadi penopang pertumbuhan selanjutnya terhadap kinerja keuangan Mitratel (MTEL) ke depan. Hingga semester I-2024, perseroan telah memiliki fiber optic sepanjang 37.602 kilo meter. Sedangkan dari sisi permintaan terlihat kenaikan pesat dari operator telekomunikasi.
Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis dalam riset terakhir yang diterbitkannya mempertahankan rekomendasi beli saham MTEL dengan target harga Rp 960. Dengan harga penutupan Rp 645 kemarin, terbuka potensi penguatan sebanyak 48,83%.
Baca Juga
Realisasikan 80% Target Marketing, Puradelta (DMAS) Optimistis Raup Rp 1,81 Triliun
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa sentiment positif terhadap saham MTEL datang dari divestasi infrastruktur serat optik (fiber optic) yang PT Link Net Tbk (LINK). “Potensi investasi pada infrastruktur FTTH [Fiber To The Home] LINK dapat menguntungkan perusahaan menara telko, khususnya MTEL,” kata Niko Margaronis.
Besarnya dampak aksi korporasi LINK tersebut didukung posisi MTEL sebagai perusahaan infrastruktur telko terbesar di Tanah Air hingga akhir Juni 2024. Mitratel memiliki sebanyak 38.581 unit menara telko, sehingga tetap menjadi pemilik menara terbanyak di Asia Tenggara. Panjang fiber optic Mitratel mencapai 37.602 km.
Grafik Saham MTEL

