Begini Cara Mitratel (MTEL) Tekan Biaya Operator Seluler di IKN Nusantara
LABUAN BAJO, investortrust.id - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) ternyata tidak sekadar membangun menara stasiun pemancar atau base transceiver station (BTS) untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Anak usaha dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) itu juga ikut andil untuk menjaga biaya layanan telekomunikasi di ibu kota baru itu tetap terjangkau dengan teknologi berbagi antena atau antenna sharing.
Direktur Operasi dan Pembangunan Mitratel Hastining Bagyo Astuti mengatakan, teknologi tersebut membuat biaya yang dikeluarkan oleh operator seluler untuk menggelar layanannya di IKN Nusantara bisa ditekan.
Baca Juga
Begini Kelanjutan Rencana Akuisisi Fiber Optik Indosat (ISAT) oleh Mitratel (MTEL)
Karena kata dia, tidak dapat dipungkiri jika biaya yang harus dikeluarkan oleh operator seluler di sana terbilang besar, khususnya untuk biaya logistik.
Namun, di sisi lain permintaan layanan atau jumlah pelanggannya masih belum sebesar di kota-kota besar. Tentunya, hal ini menjadi pertimbangan bagi operator seluler untuk menggelar layanannya dan menghindari kerugian.
“Capex (capital expenditure atau biaya modal) dan opex (operational expenditure atau biaya operasional) bisa ditekan karena mereka tidak perlu sediakan (perangkat) sendiri-sendiri lewat partnernya sendiri-sendiri. Tentunya sharing antena ini bakal lebih efisien,” katanya ketika ditemui di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Rabu (7/8/2024).
Perempuan yang akrab disapa Naning itu menyebut teknologi antenna sharing bisa menghemat hingga lebih dari 50% biaya modal dan operasional operator seluler. Asumsinya satu antena di satu menara BTS digunakan oleh tiga operator sekaligus secara masif di banyak lokasi.
Baca Juga
XL Axiata (EXCL) Minat Pakai 'BTS Terbang' Milik Mitratel (MTEL), Asalkan…
“Analoginya, misalnya kita punya indekos, masing-masing anak ambil jasa kebersihan sendiri, katering sendiri. Kalau disatukan (penyedia jasanya). Kalau disatukan kan lebih murah ya, ada discount rate (harga diskon),” tuturnya.
Naning memastikan tidak ada perbedaan kualitas jaringan dari teknologi sharing antenna dan antena yang digunakan oleh masing-masing operator. Saat ini, untuk menggelar layanannya operator memboyong antena, baterai, dan perangkat pendukung lainnya untuk dipasang di menara BTS yang mereka sewa ke Mitratel.
“Kalau dari sisi penggunanya itu seamless (tanpa ada batas) nggak ada perbedaan dari sisi apapun. Begini, antena itu ada 12, masing-masing operator seluler yang ada tiga punya empat sektor. Kalau yang antenna sharing itu empat dijadikan satu,” tuturnya.
Secara teori, Naning menyebut teknologi antenna sharing bisa digunakan hingga enam operator sekaligus. Namun, untuk kualitas layanan yang maksimal jumlah operator seluler pengguna tidak sampai pada kapasitas maksimalnya.
Mitratel bermitra dengan perusahaan asal Amerika Serikat (AS), CommScope untuk penyediaan perangkatnya. Dia memastikan bahwa antena tersebut bisa dioperasikan bersama dengan perangkat dari Ericsson maupun Huawei yang banyak digunakan oleh operator seluler di Tanah Air.
“Antena ini kompatibel dengan perangkat RF (radio frequency) dari merek atau vendor lainnya, jadi tidak ada masalah,” ungkapnya.
Naning menambahkan pihaknya membangun 19 menara BTS yang dengan konsep kamuflase dan desain futuristik. Mitratel merupakan satu-satunya perusahaan menara telekomunikasi yang membangun menara BTS di IKN Nusantara.
Grafik Harga Saham MTEL:

