Deretan Saham Undervalued Sektor Konsumen Primer, WIIM dan LSIP Dijagokan Pekan Ini
JAKARTA, investortrust.id – Saham-saham sektor barang konsumen primer dianggap masih punya peluang penguatan di tengah tren rebound indeks harga saham gabungan (IHSG). Pada perdagangan akhir pekan lalu, saham sektor konsumer primer tercatat menguat sebesar 0,15%.
Melihat optimisme pasar pada saham konsumen primer, terdapat 10 saham yang dikategorikan oleh tim Litbang Investortrust, sebagai saham yang diperdagangkan dengan nilai yang lebih rendah dari nilai intrinsiknya atau undervalued.
Menariknya, sebagian saham terbilang memiliki kinerja fundamental yang solid, contohnya PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM), dan PT PP London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP).
Baca Juga
Menhub Sebut Konsep Hunian TOD Akan Berlanjut pada Pemerintahan Prabowo
Pada perdagangan Jumat lalu (11/10/2024), saham WIIM memiliki price earning ratio (PER) 5,05 kali dan price to book value (PBV) 1,14 kali. Sedangkan saham LSIP memiliki PER sebesar 6,14 kali dan PBV sebesar 0,52 kali.
Selain itu, saham-saham sektor konsumer primer yang juga masuk dalam kategori undervalued adalah saham PSDN, SKLT, MAIN, PSGO, CEKA, SIMP, PTPS dan BISI.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Soekarno Alatas mengatakan bahwa, saham-saham dalam kategori undervalue disebabkan posisi PER yang di bawah rata-rata industri, kemudian PBV di bawah 1 kali – 2 kali atau rata-rata industri.
Pada perdagangan Jumat akhir pekan lalu, saham WIIM ditutup menguat 5 poin (0,53%) ke level 955. Lebih lanjut, riset dari CGS International Sekuritas Indonesia menilai tidak adanya kenaikan cukai dapat mengurangi tekanan kenaikan harga, dan berpotensi meningkatkan laba bersih PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) pada tahun 2025 sebesar masing masing 7%.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Askolani mengatakan bahwa cukai hasil tembakau (CHT) pada tahun depan tidak akan berubah. Kendati demikian, pemerintah akan menyesuaikan harga jual eceran (HJE) produk tembakau tahun 2025.
Baca Juga
Harga Minyak Melambung, Saham Medco (MEDC) dan Elnusa (ELSA) Ternyata Masih Jauh dari Target
Sementara itu, sepanjang semester I-2024, penjualan WIIM menurun menjadi Rp 2,22 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu Rp 2,38 triliun. Hal yang sama melanda total laba periode berjalan yang turut melemah menjadi Rp 147,27 miliar dari Rp 247,09 miliar pada semester I-2023.
Tahun ini, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp 200 miliar tahun 2024. Dana tersebut akan digunakan untuk penambahan produk baru, yaitu Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan pergantian mesin. Perseroan berharap volume produksi dan penjualan turut meningkat seiring dengan adanya pergantian mesin ini.
Di samping itu, saham emiten perkenunan PT PP London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP) juga terpantau ditutup menguat 25 poin (2,38%) ke level 1075 pada perdagangan Jumat lalu.
Hingga semester I-2024, LSIP membukukan penurunan pendapatan dari Rp 1,88 triliun pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 1,80 triliun. Kendati demikian, LSIP membukukan laba periode berjalan yang meningkat menjadi Rp 597,81 miliar dari Rp 165,67 miliar tahun lalu.
Pada tahun ini, kedua emiten tersebut telah membagikan dividen kepada pemegang sahamnya. LSIP telah membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2023 senilai Rp 265,97 miliar atau Rp 39 per saham. Sedangkan, WIIM telah membagikan dividen senilai Rp 222, 31 miliar atau Rp 107,1 per saham. (CR-4)
Grafik Harga Saham WIIM dan LSIP:

