Jangan Tertinggal! Intip Deretan Saham Properti Undervalued Jelang Penurunan Suku Bunga Acuan
JAKARTA, investortrust.id - Saham sektor properti & real estate menunjukan performa apik dalam tiga bulan terakhir di Bursa Efek Indonesia.
Selama periode tadi, saham sektor itu terpantau menguat lebih dari 20%. Sementara untuk sepekan terakhir, periode 2-6 September sektor properti & real estate tercatat cuan 1,73%.
Optimisme terhadap sektor ini didorong oleh keyakinan terhadap potensi penurunan suku bunga acuan, yang akan menarik turun suku bunga kredit yang akhirnya mendorong daya beli produk properti.
Geliat sektor ini juga disokong oleh gegap-gempita pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), sebab berderet emiten properti berupaya mengais peluang dari proyek di IKN.
Tapi tidak kalah penting, pelaku pasar melihat valuasi saham sektor ini terbilang seksi. Wajar, sebab beberapa tahun terakhir, sektor properti tiarap lantaran ditekan pandemi Covid, juga penurunan harga komoditas, serta pelemahan ekonomi global.
Lantas, apakah geliat harga saham properti menunjukan masa pemulihan mulai berlangsung? Tentu kita harus menunggu kepastian kebijakan suku bunga yang digadang mulai turun pada bulan September ini.
Tapi bagi Anda yang optimistis akan hal itu, tentu tetap harus melihat peluang pada saham-saham properti yang masih terbilang murah alias punya potensi penguatan di masa datang.
Peluang itu tampaknya masih terlihat pada saham PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) dan PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD). Keduanya termasuk ke dalam jajaran saham sektor properti dan real estate yang harga sahamnya terbilang murah (undevalued).
Berdasarkan data Litbang investortrust.id, APLN memiliki price to earning ratio (PER) sebesar 2,55 kali dan price to book value (PBV) sebesar 0,17 kali. Di lantai bursa, pada penutupan Jumat lalu (6/9/2024) perdagangan saham APLN ditutup ke posisi Rp 130.
Baca Juga
Harga Avtur Pertamina Dinilai Paling Kompetitif dan Sesuai Aturan Pemerintah
Sementara nilai PER saham GMTD tercatat 3,43 kali serta PBV sebesar 5,89 kali. Saham GMTD pada perdagangan Jumat kemarin, (6/9/2024) ditutup di level Rp 4.400.
Selain APLN dan GMTD, saham-saham sektor properti dan real estate lainnya yang masuk ke dalam kategori saham unvervalued seperti LPLI, VAST, HBAT, WINR, BCIP, DILD, GPRA dan CBPE.
Kemudian, dari sisi kinerja keuangan pada semester I-2024 APLN membukukan laba komprehensif mencapai Rp 62,2 miliar, dibandingkan semester I-2023 yang merugi Rp 53,2 miliar.
Penjualan dan pendapatan usaha APLN per Juni 2024 juga meningkat menjadi Rp 1,89 triliun, dari Rp 1,87 triliun di periode sama tahun 2023.
Selain mengoptimalkan strategi bisnis, APLN juga terus melakukan efisiensi operasional secara menyeluruh. Upaya ini berhasil meningkatkan laba kotor Perseroan hingga 10% menjadi Rp 729,8 miliar di semester I-2024.
Baca Juga
Intip Strategi Lippo Karawaci (LPKR) Tangkap Peluang Pertumbuhan Pasar Properti Rumah Tapak
Sedangkan saham GMTD, manajemen GMTD akan mencatatkan laba bersih Rp 3,68 triliun jika transaksi penjualan lahan seluas 463.213 meter persegi atau 46 hektar di kecamatan Tamalate, Makassar Rampung.
Dengan ini, terdapat penambahan Rp 3,56 triliun dari laba bersih GMTD berdasarkan laporan keuangan GMTD per 31 Maret 2024 yang tercatat Rp 119,73 miliar.
Selain itu, GMTD akan menjual sebidang lahan seluas 224.446 meter persegi seharga Rp 3,064 triliun kepada Sulawesi Multi Molindo dan menjual lahan seluas 238.747 meter persegi dengan harga Rp 716,24 miliar kepada Surya Land Development.
Grafik Pergerakan Saham Sektor Properti & real Estate:

