Simak Deretan Saham Keuangan yang Undervalued, Pillihan Teratas TUGU dan BBTN
JAKARTA, investortrust.id - Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) dan PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) termasuk ke dalam kategori saham sektor finansial yang harga sahamnya masih murah (unvervalued).
Menurut data Litbang investortrust.id, saham BBTN memiliki price to earning ratio (PER) sebesar 5,43 kali dan price to book value (PBV) sebesar 0,64 kali. Di lantai bursa, pada penutupan Jumat lalu (3/10/2024) perdagangan saham BBTN ditutup ke posisi Rp 1.365.
Sementara nilai PER saham TUGU tercatat 5,60 kali serta PBV sebesar 0,39 kali. Saham TUGU pada perdagangan Jumat kemarin, (3/10/2024) ditutup pada level Rp 1.145.
Baca Juga
Tugu Insurance (TUGU) Tegaskan Kesiapannya Terapkan PSAK 117 di 2025
Selain kedua saham di atas, saham-saham sektor properti dan real estate lainnya yang masuk ke dalam kategori saham unvervalued terdiri dari: WOMF, MREI, SDRA, CFIN, ASRM, ADMF, BJTM dan BJBR.
Berdasarkan riset Mandiri Sekuritas, penurunan suku bunga acuan memberikan angin segar bagi industri perbankan, serta berakhirnya era suku bunga tinggi bisa membuat industri ini terlepas dari tekanan biaya dana yang membebani kinerja mereka dalam beberapa waktu terakhir.
Analis Mandiri Sekuritas Kresna Hutabarat dan Boby Kristanto Chandra memaparkan kinerja BTN yang membaik hingga Agustus 2024 ini bakal kembali terdongkrak oleh adanya penurunan suku bunga.
Kinerja BTN mulai tampak pada net interest margin (NIM) yang meningkat dari 2,3% pada Juli 2024 menjadi 3,1% pada Agustus 2024 (mtm). Kenaikan ini bermakna penting untuk BTN karena mengakhiri tekanan margin yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir.
Baca Juga
Transformasi Bikin Aset BTN Tumbuh 26% dalam 5 Tahun Terakhir
Selain itu, rasio NIM sempat menyusut karena BTN tidak serta merta mengompensasi lonjakan biaya dana dengan mengerek bunga kredit secara berlebihan.
Dengan demikian, Mandiri Sekuritas untuk tetap mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target price Rp 1.800 per saham.
Di samping itu, analis BCA Sekuritas Ryan Yani Santoso dalam catatan risetnya memberikan rating buy untuk saham TUGU. Target harga untuk 12 bulan ke depan dipatok di Rp 1.600 per saham. Dengan demikian, saham TUGU berpotensi memberikan return 40,4% apabila harganya menyentuh nilai wajar.
Dalam risetnya, Ryan menjelaskan terdapat empat katalis utama yang menjadi dasar dari rekomendasi tersebut yakni potensi pertumbuhan industri, ketentuan permodalan minimal yang mendorong adanya aksi korporasi merger dan akuisisi, kemampuan TUGU untuk mempertahankan rasio klaim lebih rendah dari industri dan juga perusahaan yang konsisten membagikan dividen kepada pemegang saham.
Meskipun TUGU merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero), Ryan menilai bisnis TUGU tidak melulu bergantung pada induk. TUGU bahkan mampu mencari sumber pertumbuhan baru seperti dengan melakukan penetrasi segmen korporasi di BUMN lainnya maupun non BUMN, bahkan hingga ke segmen ritel yang diharap mencapai pangsa pasar lebih dari 10% dari total premi yang diperoleh.

