IHSG Tren Melemah tapi Reksa Dana Saham Ini Tetap ‘Cuan’
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah pelemahan pasar saham Indonesia, sejumlah reksa dana saham masih mencatatkan kinerja yang positif hingga September 2024.
Asal tahu, indeks harga saham gabungan (IHSG) mencatatkan pelemahan selama tiga hari berturut-turut. Pada penutupan Sesi I pasar saham, hari ini Jumat, (4/10) IHSG melemah sebesar 0,58% ke level 7.500.
Sebelumnya, IHSG sempat menyentuh rekor tertinggi pada level 7.910 dan rekor penutupan tertinggi 7.905 pada perdagangan 19 September 2024. Namun demikian, dalam sepekan terakhir, IHSG mulai berbalik arah hingga sempat ditutup ke bawah level 7.600 pada penutupan perdagangan akhir September 2024.
CEO Pinnacle Persada Investama atau Pinnacle Investment, Guntur Putra mengatakan bahwa kinerja reksa dana saham cukup bervariasi tergantung dari masing-masing strategi reksa dana.
Baca Juga
Panin AM Bidik AUM Rp 17 Triliun, Bakal Rilis Reksa Dana Terproteksi Baru
Senior Vice President yang juga merupakan Head Retail Marketing dan Product Development dari Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan mengatakan bahwa reksa dana saham biasanya dipilih untuk investasi jangka panjang karena potensi imbal hasil yang lebih tinggi meskipun risikonya juga lebih besar.
“Kinerja reksa dana saham bisa sangat fluktuatif dalam jangka pendek, tetapi cenderung memberikan hasil yang lebih baik dalam jangka panjang,” terang Reza.
Reksa dana saham milik Pinnacle Investment yaitu Pinnacle Strategic Equity fund sejak 2015 masih mencatatkan kinerja positif 62% sejak 2015. Sejalan dengan hal tersebut, Henan Asset memiliki produk HPAM Ekuitas Syariah berkah dengan performance 1Y 45.33%
“Tapi jika dilihat secara keseluruhan memang kinerja aset kelas obligasi lebih baik daripada saham. Bisa dilihat kinerja indeks LQ45 dan IDX30 sebenarnya relatif tidak kemana-mana 10 tahun terakhir, baru belakangan ini mulai naik dan IHSG pun mencatatkan kinerja all time high kemarin ini,” terang Guntur kepada investortrust.id, beberapa waktu lalu.
Baca Juga
HUT Ke-26, Bank Mandiri Bagikan Santunan Pendidikan kepada 2.600 Anak Yatim Piatu
Sejalan dengan hal tersebut, Vice President PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana juga memaparkan bahwa secara jangka panjang, reksa dana saham masih tetap menjanjikan kinerja yang paling tinggi di antara reksa dana jenis lainnya. “Dan idealnya juga kalau memang horizon time frame-nya itu jangka panjang di atas 5 tahun tetap reksadana saham yang menjadi pilihan juga,” ujar Wawan.
Kendati demikian, Guntur juga menuturkan bahwa reksa dana merupakan produk investasi, bukan spekulasi jadi pada umumnya investor berinvestasi produk reksa dana lebih secara jangka panjang khususnya di reksa dana saham dan reksa dana obligasi.
Sehingga, wajar pada saat kondisi pasar berfluktuasi dan volatilitas pasar tinggi, investor dapat saja menarik atau melakukan redemption kapan saja. “Tetapi alasan keluar dari reksa dana bisa berbagai faktor, bisa karena alasan likuiditas dan faktor lainnya,” pungkasnya.

