Harga Minyak Dunia Lanjut Menguat Dipicu Tensi Geopolitik Timur Tengah
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember 2024 meningkat 34 sen (0,46%) menjadi US$ 73,9 per barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November 2024 naik 27 sen (0,39%) ke posisi US$ 70,1 per barel.
Melansir Reuters, Kamis (3/10/2024) harga minyak dunia melanjutkan peningkatan dari sesi sebelumnya pada Rabu (2/10/2024) dipicu meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Militer Israel pada Rabu mengirimkan pasukan infantri dan unit kendaraan lapis baja ke Lebanon sebagai bentuk operasi militer untuk menghancurkan kelompok Hezbollah yang bercokol di wilayah selatan negara tersebut.
Baca Juga
Harga Minyak, Emas, dan CPO Kompak Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Batu Bara Lesu
Berdasarkan laporan dari situs berita AS, Axios, pembalasan Israel dapat mencakup penargetan fasilitas produksi minyak Iran serta situs strategis lainnya. Pada Rabu kemarin, Iran menyatakan serangan misilnya terhadap Israel telah selesai kecuali jika ada provokasi lebih lanjut.
“Mereka menambahkan bahwa jika Israel membalas serangan tersebut, Iran akan memberikan respons dengan kehancuran besar-besaran,” tulisnya.
Broker minyak PVM, Tamas Varga mengungkapkan, serangan terhadap infrastruktur minyak Iran dapat memicu respons dari Teheran, seperti serangan terhadap fasilitas minyak Saudi, Serupa dengan serangan yang terjadi pada tahun 2019 di fasilitas pengolahan minyak mentah di sana. “Setiap peristiwa seperti ini bisa mendorong harga minyak naik secara signifikan,” kata Varga.
Baca Juga
Serangan Rudal Iran ke Israel Picu Kenaikan Harga Minyak Dunia
Kemudian, dari perkembangan konflik lainnya, militer Israel pada Rabu mengirimkan unit infanteri dan lapis baja reguler untuk bergabung dengan operasi darat di Lebanon selatan melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Pada pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Timur Tengah, Israel dan Iran saling mengancam akan melakukan pembalasan jika diserang.
Capital Economics dalam catatannya menyebutkan, jika Iran meningkatkan konflik secara besar-besaran, AS bisa terlibat dalam perang. Iran menyumbang sekitar 4% dari produksi minyak dunia, namun pertimbangan penting lainnya adalah apakah Arab Saudi akan meningkatkan produksi jika pasokan Iran terganggu.

