Serangan Rudal Iran ke Israel Picu Kenaikan Harga Minyak Dunia
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mentah Brent naik 83 sen (1,13%) ke level US$ 74,39 per barel pada Rabu (2/10/2024). Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 88 sen (1,26%) ke posisi US$ 70,71 per barel.
Mengutip Reuters, kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah berkembang menjadi perang yang lebih luas dan mengganggu pasokan minyak dari kawasan penghasil utama, setelah Iran menembakkan rudal balistik ke Israel.
Iran dilaporkan telah menembakkan lebih dari 180 rudal balistik ke Israel pada Selasa (1/10/2024), sebagai balasan atas kampanye Israel terhadap Hezbollah yang menjadi sekutu Teheran di Lebanon. Pasalnya, Iran merupakan anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) sebagai produsen minyak utama di kawasan tersebut.
Baca Juga
Imbas Serangan Iran ke Israel, Harga Emas Terdongkrak Lebih dari 1%
"Keterlibatan langsung Iran, sebagai anggota OPEC, meningkatkan kemungkinan gangguan pasokan minyak, produksi minyak Iran mencapai puncak enam tahun tertinggi yaitu 3,7 juta barel per hari pada bulan Agustus," kata ANZ Research dalam catatannya.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan berjanji bahwa Iran akan membayar atas serangan rudalnya terhadap Israel. Sementara Teheran menyatakan bahwa setiap balasan akan dihadapi dengan kerusakan besar yang meningkatkan ketakutan akan perang yang lebih luas.
Selain itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan, dukungan penuh AS terhadap Israel, sekutu lamanya, dan Dewan Keamanan PBB mengagendakan pertemuan tentang Timur Tengah pada hari Rabu.
Baca Juga
Israel: Iran Tembakkan 180 Rudal, Belum Seluruhnya Terhitung
"Eskalasi besar oleh Iran berisiko membawa AS ke dalam perang, Iran menyumbang sekitar 4% dari total produksi minyak global, tetapi pertimbangan penting adalah apakah Arab Saudi akan meningkatkan produksi jika pasokan Iran terganggu,” kata Capital Economics dalam catatannya.
Panel menteri dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, akan bertemu pada hari Rabu untuk meninjau pasar dengan tidak ada perubahan kebijakan yang diharapkan.
Mulai Desember, OPEC+, yang mencakup Rusia, dicanangkan untuk meningkatkan produksi sebesar 180.000 barel per hari (bpd) setiap bulan.

