Rugi Bersih Garuda (GIAA) Semester I Naik, Berikut Pemicunya
JAKARTA, investortrust.id – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatatkan peningkatan rugi periode berjalan menjadi US$ 100,35 juta pada semester I-2024, dibandingkan rugi periode berjalan untuk semester I-2023 capai US$ 76,38 juta.
Manajemen GIAA dalam rilis laporan kinerja keuangan semester I-2024 yang diaudit, di Jakarta, Senin (30/9/2024), menyebutkan bahwa peningkatan rugi bersih tersebut berbanding terbalik dengan pendapatan usaha yang justru bertumbuh pesat dari US$ 1,37 miliar menjadi US$ 1,62 miliar.
Sejalan dengan kenaikan pendapatan, total beban usaha juga meningkat dari US$ 1,24 miliar menjadi US$ 1,53 miliar. Perseroan juga mencatatkan kenaikan beban keuangan dari US$ 222,77 juta menjadi US$ 246,45 juta. Alhasil rugi sebelum pajak perseroan naik dari US$ 109,56 juta menjadi US$ 112,95 juta.
Baca Juga
Saatnya Terbang bagi Saham Garuda (GIAA)! Ini Target Harganya
Sedangkan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik dari US$ 76,50 juta menjadi US$ 101,65 juta.
Sementara itu, Sinarmas Sekuritas dalam riset yang diterbitkan belum lama ini mengungkapkan bahwa harga saham GIAA saat ini tergolong sangat murah, dibandingkan perusahaan sejenis. Harga saat ini baru merefleksikan EV/EBITDA sebesar 1,7 kali atau jauh di bawah rata-rata perusahaan sejenis sebanyak 3,5 kali.
Sinarmas Sekuritas dalam riset terakhirnya menyebutkan bahwa saham sejumlah maskpai penerbangan dunia telah ditransaksikan dengan rata-rata EV/EBITDA di atas 3,5 kali. Di antaranya, maskapai penerbangan JAL sekitar 3,8 kali, ANZ mencapai 3,6 kali, Korean Air 3,5 kali, Qantas dan Eva Air masing-masing 3,2 kali, bandingkan dengan GIAA baru mencapai 1,7 kali.
Selain secara valuasi, dia mengatakan, prospek kinerja keuangan dan saham GIAA terdorong sejumlah sentiment positif. Di antaranya, anak usahanya PT GMF Aero Asia Tbk (GMFI) berencana menerbitkan sebanyak 12 miliar saham baru. Aksi korporasi ini bagian dari kebijakan pemerintah memasukkan GMFI dalam holding InJourney.
Baca Juga
Pemerintah Bentuk Satgas Penurunan Harga Tiket Pesawat, Begini Respons Bos Garuda (GIAA)
Dari aksi korporasi tersebut, dia mengatakan, GIAA akan mendapatkan pendapatan extraordinary dari keuntungan penjualan asset senilai Rp 200 miliar. Angka ini diharapkan membaut perseroan mencatatkan keuntungan tahun ini.
Sinarmas Sekuritas memperkirakan laba bersih Garuda Indonesia (GIAA) mencapai US$ 123 juta tahun ini atau lebih rendah dari realisasi periode sama tahun lalu US$ 252 juta. Tahun lalu, laba perseroan terdorong adanya impairment asset non keuangan dan keuntungan dari pembelian obligasi.
Grafik Saham GIAA

