Meski Cetak Kenaikan Pendapatan Jadi US$ 3,41 Miliar, Garuda (GIAA) malah Berbalik Rugi
JAKARTA, investortrust.id - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) berhasil mencatatkan kenaikan pendapatan usaha menjadi US$ 3,41 miliar pada 2024, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 2,93 miliar. Sebaliknya perseroan malah mencatatkan rugi bersih akibat pertumbuhan beban yang tinggi tahun lalu.
GIAA dalam rilis laporan kinerja keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin diungkap bahwa peningkatan pendapatan tersebut disertai dengan peningkatan beban usaha dari US$ 2,62 miliar menjadi US$ 3,10 miliar. Peningkatan dipicu atas kenaikan seluruh beban usaha, seperti operasional penerbangan, sewa pesawat, pelayanan penumpang, dan beban lainnya.
Baca Juga
Donny Tunjuk BKI Holding Operasional Danantara, Lalu Emiten BUMN?
GIAA juga mencatatkan kenaikan beban keuangan dari US$ 456,78 juta menjadi US$ 479,89 juta pada 2024. Alhasil beban usaha meningkat dari US$ 75,27 juta menjadi US$ 390,07 juta. Sedangkan pendapatan lain-lain turun dalam dari US$ 344,79 juta menjadi US$ 55,18 juta.
Hal ini membuat Garuda (GIAA) berbalik rugi tahun berjalan senilai US$ 69,77 juta pada 2024, dibandingkan laba tahun berjalan 2023 senilai US$ 251,99 juta. Adapun rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk US$ 27,70 juta pada 2024, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya dengan laba entitas induk US$ 250,04 juta.
Baca Juga
Sambut Libur Lebaran, Garuda Indonesia (GIIA) Siapkan 1,9 Juta Kursi dan 95 Armada
Sebelumnya, pemerintah selaku pengendali telah mengalihkan seluruh saham miliknya sebanyak 64,53% ke Danantara melalui PT Biro Klasifikasi Indonesia. Dengan demikian pengendali perseroan beralih dari pemerintah menjadi Danantara.
Pengalihan saham tersebut bagian dari inbreng saham untuk menambah penyertaan modal negara Indonesia pada Danantara. Meski terjadi pengalihan, pemerintah tetap bertindak sebagai penerima manfaat terakhir, karena bertindak sebagai pengendali Danantara.

