Saatnya Terbang bagi Saham Garuda (GIAA)! Ini Target Harganya
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) saat ini tergolong sangat murah, dibandingkan perusahaan sejenis. Harga saat ini baru merefleksikan EV/EBITDA sebesar 1,7 kali atau jauh di bawah rata-rata perusahaan sejenis sebanyak 3,5 kali.
Sinarmas Sekuritas dalam riset yang diterbitkan pekan lalu menyebutkan bahwa saham sejumlah maskpai penerbangan dunia telah ditransaksikan dengan rata-rata EV/EBITDA di atas 3,5 kali. Di antaranya, maskapai penerbangan JAL sekitar 3,8 kali, ANZ mencapai 3,6 kali, Korean Air 3,5 kali, Qantas dan Eva Air masing-masing 3,2 kali, bandingkan dengan GIAA baru mencapai 1,7 kali.
Baca Juga
Asia Digital Engineering Jalin Investasi Bersama dengan Garuda Maintenance (GMFI)
“Kami melihat harga saham GIIA terdiskon sangat besar, dibandingkan dengan fair value. Berdasarkan data EV/EBITDA maskapai full services regional ditransaksikan di level lebih dari 3 kali, sedangkan GIAA baru sekitar 1,7 kali,” tulis analis Sinarmas Sekuritas Isfhan Helmy dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, pekan lalu.
Selain secara valuasi, dia mengatakan, prospek kinerja keuangan dan saham GIAA terdorong sejumlah sentiment positif. Di antaranya, anak usahanya PT GMF Aero Asia Tbk (GMFI) berencana menerbitkan sebanyak 12 miliar saham baru. Aksi korporasi ini bagian dari kebijakan pemerintah memasukkan GMFI dalam holding InJourney.
Dari aksi korporasi tersebut, dia mengatakan, GIAA akan mendapatkan pendapatan extraordinary dari keuntungan penjualan asset senilai Rp 200 miliar. Angka ini diharapkan membaut perseroan mencatatkan keuntungan tahun ini.
Baca Juga
Paus Fransiskus Lanjutkan Perjalanan Apostolik ke Papua Nugini dengan Pesawat Garuda
Sinarmas Sekuritas memperkirakan laba bersih Garuda Indonesia (GIAA) mencapai US$ 123 juta tahun ini atau lebih rendah dari realisasi periode sama tahun lalu US$ 252 juta. Tahun lalu, laba perseroan terdorong adanya impairment asset non keuangan dan keuntungan dari pembelian obligasi.
Sentimen alinnya, terang Sinarmas Sekuritas, GIAA melalui maskapai Citilink telah mencatatkan SLF atau tingkat keterisian kursi penerbangan sebanyak 80%. Perseroan mencatatkan jumlah penumpang sebanyak 6,3 juta orang atau terjadi kenaikan 16%. “Kami memperkirakan jumlah penumpang perseroan akan terus bertambah, seiring dengan penambahan jumlah armada. EBIT penumpang perseroan juga diharapkan meningkat menjadi US$ 29 juta pada paruh kedua tahun ini, seiring dengan biaya lebih rendah, seperti harga minyak yang stabil,” terangnya.
Baca Juga
Kelanjutan Integrasi Garuda Indonesia (GIIA) ke Holding BUMN Pariwisata Belum Jelas
Terkait penerbangan maskapai Garuda, dia mengatakan, tercatat SLF penerbangan domestinya mencapai 85% pada kuartal II-2024 atau tertinggi sejak IPO saham perseroan. Peningkatan sejalan dengan penunrunan harga tiket per penumpang. Hal ini menjadikan total penumpang Garuda meningkat 42% menjadi 4,1 juta pada paruh pertama 2024.
Selain factor tersebut, Sinarmas Sekuritas menyebutkan, pemerintah tengah mengkaji ulang petaruan terkait harga tiket pesawat agar lebih ramah bagi Masyarakat. Saat ini, diketahui harga tiket penerbangan domestic jauh di atas rata-rata harga tiket maskapai regional.
Berbagai factor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas untuk memeprtahankan rekomendasi beli saham GIAA dengan target harga Rp 220 per saham. Sinarmas Sekuritas menyebutkan saatnya terbang bagi saham GIAA didukung harga saham saat ini terdiskon besar.
Grafik Saham GIAA

