Saat Link Net Jual Aset Fiber, Mitratel (MTEL) justru Diuntungkan, kok Bisa?
JAKARTA, investortrust.id – Divestasi infrastruktur serat optik (fiber optic) yang PT Link Net Tbk (LINK) bisa berimbas positif terhadap emiten sektor menara telekomunikasi. Aksi ini dapat memperkuat kemampuan emiten menara telko untuk meningkatkan pendapatan baru dari segmen ini.
Dua emiten menara telko yang paling diuntungkan dari aksi LINK tersebut adalah anak usaha Grup Telkom, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel, dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).
“Potensi investasi pada infrastruktur FTTH [Fiber To The Home] Link Net dapat menguntungkan perusahaan menara telko, seperti TOWR dan MTEL,” kata analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis dalam riset yang diterbitkan awal bulan ini.
Baca Juga
Mitratel (MTEL): Hanya Perlu 9 BTS Terbang untuk Layani Seluruh Jawa
Dengan aksi korporasi LINK, MTEL dan TOWR justru semakin dipermudah untuk memonetisasi serta meningkatkan penyebaran fiber optic guna menghasilkan stream pendapatan baru selain dari yang sudah eksisting. FTTH adalah teknologi yang menggunakan kabel fiber optic untuk mengirimkan data dari jaringan internet ke perangkat pengguna.
Selain itu, riset tersebut mengungkap bahwa MTEL dan TOWR merupakan dua perusahaan infrastruktur telko terbesar di Tanah Air hingga akhir Juni 2024. Mitratel memiliki sebanyak 38.581 unit menara telko, naik 5,1% year on year (YoY) sehingga tetap menjadi pemilik menara terbanyak di Asia Tenggara. Panjang fiber optic Mitratel mencapai 37.602 km atau bertumbuh 37,9%. Sedangkan jaringan fiber optic Sarana Menara per kuartal I-2024 sepanjang 186.571 km.
Hal ini mendorong BRI Danareksa untuk rekomendasi beli saham MTEL dengan target harga Rp 960 per saha. Target ini merefleksikan MTEL punya jangkauan yang unggul di luar Jawa dan rasio net debt/EBITDA yang rendah (2,2 kali) dan perusahaan tengah membidik bisnis fiber milik Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) sebagai tulang punggung pendapatan (backbone).
Baca Juga
Begini Kelanjutan Rencana Akuisisi Fiber Optik Indosat (ISAT) oleh Mitratel (MTEL)
“Selain itu, Mitratel dan Grup Telkom juga sedang menjajaki masuk ke pasar pita lebar tetap (FTTH) untuk memanfaatkan investasi saat ini di FTTT,” tulis Niko.
MTEL juga akan menikmati katalis positif lainnya dari pemangkasan suku bunga acuan. Beban bunga akan lebih ringan sehingga berdampak positif ke kinerja keuangan. Suku bunga yang lebih rendah juga memberi peluang mencari sumber pendanaan baru untuk membiayai ekspansi. Terlebih rasio utang perseroan terbilang paling rendah.
Sebelumnya Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Daniel Widjaja dan Brandon Boedhiman, dalam riset juga sudah mematok target harga saham MTEL Rp 800 per saham dan target harga konsensus sebesar Rp 824 per sahamn. “Kekuatan MTEl yakni potensi permintaan yang lebih tinggi untuk infrastruktur menara didorong oleh perluasan layanan jaringan 5G dan meningkatnya kebutuhan akan pusat data,” tulis kedua analis Samuel tersebut, dalam riset 29 Juli 2024.
Baca Juga
Investasi di IKN dan Antenna Sharing Jadi Katalis Positif Mitratel (MTEL)
Data BEI mencatat saham MTEL selama 3 bulan terakhir menguat 4%. Asing sudah melakukan akumulasi beli saham MTEL sebanyak Rp 10,26 miliar sebulan terakhir.
Diberitakan DealStreetAsia pada awal September ini, Link Net dikabarkan sudah menunjuk UBS sebagai penasihat keuangan untuk penjualan aset fiber senilai US$ 400 juta atau sekitar Rp 6,2 triliun, yang diharapkan selesai akhir tahun ini.
Tiga calon pembeli disebut telah memasukkan penawaran, yaitu calon Squared Capital yang menargetkan investasi US$ 5 miliar di seluruh Asia-Pasifik pada 2025-2027. Sinar Mas Group, yang aktif mengakuisisi aset fiber untuk memperluas portofolionya. Terakhir Protelindo (anak usaha TOWR).
Grafik Saham MTEL

