Bagikan

Surplus Neraca Perdagangan Agustus Melonjak 480%, Tembus US$ 2,9 Miliar

JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan barang pada Agustus 2024 mengalami surplus sebesar US$ 2,9 miliar. Surplus neraca perdagangan Indonesia ini berlanjut selama 52 bulan berturut-turut, sejak Mei 2020.

“Surplus pada Agustus 2024 naik sebesar US$ 2,4 miliar secara bulanan (melonjak sekitar 480% dibanding surplus Juli lalu sekitar US$ 0,5 miliar). Meski demikian, surplus perdagangan Agustus tahun ini lebih rendah US$ 0,22 miliar dibanding Agustus 2023,” kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini di kantornya, Jakarta, Selasa (17/9/2024).

Perkembangan ekspor, impor, dan neraca perdagangan Indonesia, hingga Agustus 2024. Infografis: diolah Riset Investortrust.

Baca Juga

Ekspor Agustus Naik 5,97% Tembus US$ 23,56 Miliar, Impor Turun  

Pudji mengatakan, surplus perdagangan barang Agustus 2024 lebih ditopang oleh surplus komoditas nonmigas senilai US$ 4,34 miliar. Komoditas penopangnya yaitu bahan bakar mineral atau batu bara, minyak/lemak hewan atau nabati (mayoritas minyak sawit), serta besi dan baja.

Pudji mencatat, untuk neraca perdagangan migas mengalami defisit US$ 1,44 miliar. Komoditas penyumbang defisit yaitu hasil minyak dan minyak mentah. 

“Defisit perdagangan migas Agustus 2024 tidak sedalam bulan sebelumnya. Tapi, masih dalam dibanding bulan yang sama tahun lalu,” kata dia.

Komoditas penyumbang surplus neraca perdagangan Indonesia dengan AS, India, dan Filipina. Infografis: diolah Riset Investortrust.


Sedangkan negara penyumbang surplus neraca perdagangan terbesar dengan Indonesia pada Agustus lalu adalah Amerika Serikat, mencapai US$ 1,71 miliar. Kedua adalah India senilai US$ 1,08 miliar dan ketiga, Filipina US$ 847,3 juta.


Sebaliknya, negara penyumbang defisit neraca perdagangan terbesar dengan Indonesia pada Agustus lalu adalah Tiongkok US$ 1,0 miliar. Yang kedua adalah Australia senilai US$ 549,7 juta dan Singapura US$ 312,8 juta.


Ekspor Masih Ekspansif
BPS mencatat, lonjakan surplus perdagangan Agustus lalu lantaran ekspor Indonesia masih ekspansif di tengah impor turun. Pada Agustus 2024, ekspor tercatat mencapai US$ 23,56 miliar atau naik 5,97% secara bulanan. Sedangkan nilai impor Agustus turun 4,93% dari Juli 2024, ke US$ 20,67 miliar. 

Peningkatan ekspor Agustus terutama didorong oleh lonjakan ekspor nonmigas. Nilai ekspor nonmigas naik 7,43%, menjadi US$ 22,36 miliar. Sedangkan nilai ekspor migas tercatat US$ 1,2 miliar atau turun 15,41% secara bulanan. Dia menjelaskan lebih lanjut, penurunan ekspor migas didorong anjloknya nilai ekspor gas, dengan andil -0,68%. 

"Peningkatan ekspor nonmigas didorong ekspor komoditas nonmigas lemak dan minyak hewani yang naik 24,5% dengan andil 2,12%. Selain itu, ekspor ditopang oleh komoditas biji logam, terak, dan abu naik 47,23% dengan andil 1,05%. Berikutnya, ekspor mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya naik 12,54%, dengan andil 0,73%,” kata Pudji.

Ilustrasi berbagai produk perhiasan emas yang dijual PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA). Emiten ini juga melakukan pengembangan ekspor, seperti ke India. Foto: Istimewa.


Secara tahunan, ucap Pudji, nilai ekspor Agustus 2024 mengalami peningkatan 7,13%. Kenaikan ini didorong peningkatan ekspor nonmigas, terutama pada logam mulia dan permata, bahan bakar mineral, serta mesin dan perlengkapan elektrik dan bagiannya.

Kenaikan ekspor logam mulia diakibatkan berubahnya harga komoditas di pasar internasional. Pudji menyebut, harga komoditas ini mengalami kenaikan signifikan di pasar internasional. “Harga komoditas logam mulai mengalami peningkatan, didominasi harga emas,” kata dia.


Ekspor Komoditas Nonmigas Unggulan
Pudji menjelaskan lebih rinci kinerja ekspor komoditas nonmigas unggulan, yakni batu bara, besi dan baja, serta minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya. Ekspor batu bara mencapai US$ 2,47 miliar pada Agustus 2024, dengan share 11,05% atau terbesar. Ekspor secara month to month turun 0,84% sedangkan secara year on year naik 9,65%.

 
Ekspor besi dan baja senilai
US$ 2,00 miliar dengan share 8,96%. Secara mtm turun 1,42% dan secara yoy anjlok 10,51%.

"Pada Agustus 2024, nilai ekspor komoditas CPO dan turunannya sebesar US$ 1,77 miliar, dengan share 7,90%. Ekspor meningkat secara bulanan dengan pertumbuhan 27,86% mtm, namun turun 26,39% yoy," ungkapnya.

Ekspor Nonmigas menurut Sektor
Dilihat dari sektor, papar Pudji, peningkatan nilai ekspor nonmigas secara bulanan pada Agustus 2024 terutama didorong oleh sektor industri pengolahan. "Nilai ekspor sektor industri pengolahan naik 7,09% pada Agustus 2024 (month to month), dengan andil peningkatan sebesar 5,27%," ucapnya.


Perkembangan nilai ekspor nonmigas Indonesia menurut sektor hingga Agustus 2024. Sumber: BPS.



Industri pengolahan mencatatkan ekspor US$  17,71 miliar. Sektor ini berkontribusi menembus
79,2% terhadap total ekspor nonmigas US$ 22,36 miliar.

"Sedangkan ekspor sektor pertambangan dan lainnya US$ 4,10 miliar, dengan pertumbuhan 8,76%. Untuk ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar US$ 0,54 miliar dengan pertumbuhan 8,70%," tutur Pudji.


Tujuan Utama Ekspor Nonmigas 
Berdasarkan negara tujuan ekspor nonmigas, Tiongkok masih menjadi tujuan utama ekspor Indonesia pada Agustus 2024. Nilainya tembus US$ 5,33 miliar, dengan pangsa mencapai 23,83%. 


Berikutnya adalah Amerika Serikat. Ekspor ke negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu mencapai US$ 2,61 miliar, dengan pangsa sebesar 11,66%.


Yang ketiga adalah Jepang. Ekspor ke Negeri Matahari Terbit itu senilai US$ 1,80 miliar, dengan pangsa sebesar 8,05%.

Sedangkan ekspor ke kawasan ASEAN senilai US$ 4,12 miliar, dengan pangsa 18,42%. Untuk ekspor ke Uni Eropa sebanyak US$ 1,54 miliar dengan pangsa 6,90%.

"Ekspor nonmigas ke seluruh negara/kawasan tujuan utama meningkat secara bulanan. Ekspor ke Amerika Serikat dan Jepang meningkat secara tahunan," ujar Pudji.


Impor Migas Anjlok 25,56% 
Pudji menjelaskan lebih lanjut, impor pada Agustus 2024 terpangkas 4,93% dari Juli 2024, menjadi US$ 20,67 miliar. Impor migas mengalami penurunan terdalam.

"Pada Agustus 2024, impor migas tercatat turun hingga 25,56% dari Juli 2024, menjadi US$ 2,65 miliar. 
Sementara, impor nonmigas senilai US$ 18,02 miliar juga mengalami penurunan, sebesar 0,89% secara bulanan,” kata Pudji.

Pudji menegaskan, penurunan impor terjadi terutama karena penurunan nilai impor migas dengan andil sebesar 4,18%. Sedangkan, andil penurunan nilai impor nonmigas sebesar 0,75%.

 
Baca Juga

Belajar dari India, Menarik Investasi Mobil Listrik Amerika

Secara tahunan, nilai impor Agustus 2024 meningkat 9,46%. Namun, untuk impor migas terjadi penurunan 0,51% yang disebabkan penurunan rata-rata harga agregat.

“Sementara itu, untuk nonmigas nilainya naik sebesar 11,09%. Komoditas dengan peningkatan tertinggi adalah bijih logam terak dan abu, yang meningkat 126,92%,” kata dia.

Menurut penggunaan, impor terbesar adalah bahan baku/penolong mencapai US$ 14,88 miliar pada Agustus, turun 7,16% dibanding Juli lalu. Berikutnya adalah impor barang modal sebanyak US$ 3,81 miliar atau naik 4,69% secara bulanan, dan barang konsumsi senilai US$ 1,98 miliar atau turun 4,58%.



Kumulatif Januari-Agustus 
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Agustus 2024 mencapai US$ 170,89 miliar. Ekspor turun 0,35% dibanding periode yang sama tahun 2023.


"Total ekspor turun dipengaruhi nilai ekspor nonmigas turun 0,46%, 
menjadi US$ 160,36 miliar. Sedangkan ekspor migas naik 1,36% menjadi US$ 10,5 miliar," ucap Pudji.

Menurut provinsi asal barang, lanjut Pudji, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Agustus 2024 berasal dari Provinsi Jawa Barat dengan nilai US$ 24,85 miliar (14,54%), Berikutnya adalah Jawa Timur US$ 16,90 miliar (9,89%) dan Kalimantan Timur US$ 16,73 miliar (9,79%).

 

Sementara itu, impor Januari-Agustus 2024 tercatat US$ 152,04 miliar. Impor naik 3,31% dibanding periode sama sebelumnya US$ 147,18 miliar 
 

"Seluruh nilai impor menurut golongan penggunaan barang selama Januari–Agustus 2024 mengalami peningkatan, terhadap periode yang sama tahun sebelumnya. Golongan bahan baku/penolong meningkat tertinggi senilai US$ 3,98 miliar (3,71%), diikuti barang konsumsi US$ 479,7 juta (3,43%) dan barang modal US$ 403,2 juta (1,56%)," paparnya.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024