Belajar dari India, Menarik Investasi Mobil Listrik Amerika
Oleh Ester Nuky,
Redaktur Investortrust.id
INVESTORTRUST.ID - Mercedes-Benz India telah memulai produksi lokal sports utility vehicle (SUV) listrik terbaiknya, EQS 580 4MATIC. India menjadi satu-satunya negara di luar Amerika Serikat yang memproduksi SUV listrik mewah ini, menandai tonggak sejarah besar bagi strategi kendaraan listrik global Mercedes-Benz dan komitmennya terhadap ‘Make in India.’
Diluncurkan dengan harga perkenalan Rs 1,41 crore (atau US$ 170.000) atau sekitar Rp 2,59 miliar pada Senin (16/9/2024) ini, EQS SUV 580 menawarkan jarak tempuh 809 km dalam sekali pengisian baterai. Sebagaimana dilansir Autocar Professional, mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) itu dilengkapi dengan garansi baterai tegangan tinggi selama 10 tahun. Sementara produsen lain seperti Hyundai dari Korea Selatan, menjamin garansi high voltage EV battery untuk mobil listrik Hyundai selama 8 tahun atau 160.000 km, mana yang tercapai lebih dulu.
Baca Juga
Resmikan Pabrik Baterai Mobil Listrik, Jokowi: Siapa yang Bisa Adang Kita?
Baterai yang digunakan adalah Lithium-ion, jenis baterai yang dikembangkan industrinya di Indonesia untuk membangun hilirisasi nikel dan ekosistem baterai hingga mobil listrik terpadu. Li-ion battery ini menggunakan bahan baku utama lithium, nikel, kobalt, mangan, dan alumunium sebagai bahan material katoda. Indonesia tercatat memiliki cadangan nikel terbesar di dunia dan cadangan besar kobalt, mangan, maupun alumunium, sedangkan lithium harus diimpor.
Jenis baterai yang banyak menggunakan nikel itu cocok dipakai di Amerika Serikat dan Eropa, yang jarak tempuh kendaraannya jauh. Hal ini berbeda dengan kondisi mobil listrik yang diproduksi Tiongkok, yang jarak tempuhnya pendek.
Untuk EQS 580 4Matic SUV spesifikasi India tersebut, tercatat memiliki jangkauan sejauh 809 km dengan sekali pengisian daya, di mana baterainya mendukung pengisian cepat DC hingga 200 kW. SUV dilengkapi dengan baterai 122 kWh yang menggerakkan pengaturan motor listrik ganda.
Jika digabungkan, SUV ini menghasilkan tenaga 544 hp dan torsi puncak 858 Nm, serta menawarkan penggerak semua roda. Kendaraan dapat berlari dari 0-100 kph dalam 4,7 detik.
Baca Juga
Tesla Batal Bangun Pabrik EV di Indonesia, Jokowi: Tak Hanya Andalkan Satu Merek
Dengan harga awal Rs 1,41 crore, Mercy SUV ini akan menghadapi persaingan dengan BMW iX (Rs 1,4 crore) dan Audi Q8 e-tron (Rs 1,15 crore) di pasar. Managing Director dan CEO Mercedes-Benz India Santosh Iyer menyatakan kebanggaan memperkenalkan EQS SUV 580 4MATIC yang diproduksi di dalam negeri, yang kian memperkuat peran negaranya sebagai pasar utama dalam peta jalan electric vehicle global mereka.
Sebagaimana dilansir Economic Times, Mercedes-Benz pun siap menginvestasikan US$ 500 juta di bisnis EV atau mobil listrik India. Tetapi, ini ada syaratnya.
Produsen mobil mewah Jerman tersebut mensyaratkan goods and services tax (GST) sebesar 5% untuk kendaraan listrik, yang kini diberlakukan India, tetap berlaku sebagai insentif selama dekade berikutnya. GST di negara dengan penduduk terbanyak dan merupakan kompetitor Tiongkok itu serupa dengan pajak pertambahan nilai (PPN) di Indonesia.
Tesla Urung Bangun Pabrik di Indonesia
Sementara itu, perusahaan mobil listrik terkemuka dunia asal Amerika Serikat, Tesla, kembali urung mendirikan pabrik di Indonesia. Kepastian ini terungkap, usai Pendiri dan CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk disambut luar biasa meriah oleh para petinggi Indonesia saat meresmikan peluncuran produk layanan internetnya, Starlink, di Tanah Air Mei lalu.
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sempat mengungkap hasil pertemuan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Elon Musk saat itu. Presiden Jokowi sempat menawarkan paket investasi untuk memproduksi baterai kendaraan listrik Tesla kepada orang terkaya seantero jagat.
Luhut menyebut, kerja sama investasi antara Elon Musk dan Indonesia tersebut penting, untuk mengantisipasi target AS meningkatkan produksi mobil listrik hingga 11 kali pada 2030. Dengan bantuan pendiri X Corp itu, nikel Indonesia bisa digunakan untuk mobil listrik AS yang mendapat subsidi pajak dan uang muka besar.
Kolaborasi dengan produsen mobil listrik Amerika dan Eropa sangat penting, karena bateri Li-ion yang banyak menggunakan nikel ini cocok untuk dipakai di kedua benua itu, yang jarak tempuh mobilnya jauh. Baterai Li-ion tercatat mampu berjalan rata-rata 3.000 hingga 5.000 siklus vs 400 siklus baterai timbal-asam, misalnya.
Meski tidak ada baterai yang berkinerja sempurna dalam cuaca beku, baterai litium juga berkinerja jauh lebih baik dari baterai timbal-asam dan jenis baterai lainnya. Selain berkinerja lebih baik dalam suhu ekstrem, ada beberapa hal yang membuat harga awalnya yang lebih tinggi sepadan, seperti praktis karena beratnya lebih ringan dan tidak memakan tempat, sehingga jauh lebih mudah ditempatkan di belakang.
Baterai Li-ion ini dipastikan bakal menghemat uang dalam jangka panjang. Artinya, dapat lebih menguntungkan kendati harga awalnya lebih mahal.
Sementara itu, PwC dalam laporan bertajuk "Electric Vehicle Sales Review Q2 2024" memaparkan, pertumbuhan global mobil listrik terus berlanjut. Berdasarkan jumlah penjualan di 21 pasar yang dianalisis, pangsa pasar kendaraan listrik mencapai ketinggian baru, di tengah rencana penghentian penjualan mobil anyar berbahan bakar fosil sejumlah negara mulai 2025-2030, seperti Norwegia, AS, Jerman, Inggris, dan India.
PwC mencatat, lebih dari satu dari tiga kendaraan (37%) yang terjual di pasar-pasar ini pada kuartal II-2024 adalah BEV, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), atau hibrida; naik dari 30% pada kuartal sama tahun lalu. Sementara itu, total penjualan mobil listrik tumbuh 21% pada kuartal II tahun 2024 vs kuartal sama 2023, padahal penjualan mobil konvensional menggunakan mesin pembakaran internal (ICE) anjlok 9%.
Sumber: IEA.
Sebagian besar pertumbuhan baru-baru ini di semua pasar tersebut dikontribusi penjualan PHEV di Tiongkok, yang melonjak 98% pada kuartal II-2024 dibandingkan triwulan sama 2023, hingga mencapai lebih dari satu juta unit dalam satu kuartal untuk pertama kalinya. Hal itu menandai peningkatan kekuatan Cina di pasar mobil global, termasuk lonjakan ekspornya ke Eropa dan menguatnya cengkeraman original equipment manufacturer (OEM) Tiongkok atas pasar domestiknya sendiri.
International Energy Agency mencatat, penjualan mobil listrik terus memecahkan rekor. Tahun lalu, penjualan mobil listrik global melonjak sebesar 35% menjadi hampir 14 juta. Meski sebagian besar permintaan masih terkonsentrasi di Tiongkok, Eropa, dan Amerika Serikat, pertumbuhan juga meningkat di beberapa negara berkembang seperti Vietnam dan Thailand, di mana mobil listrik masing-masing menyumbang 15% dan 10% dari seluruh penjualan mobil.
Pada tahun 2024, IEA memproyeksikan penjualan mobil listrik di Tiongkok melonjak menjadi sekitar 10 juta, atau mencakup 45% dari seluruh penjualan mobil di negara dengan perekonomian terbesar kedua itu. Di Amerika Serikat, sekitar satu dari sembilan mobil yang terjual diperkirakan merupakan mobil listrik. Di Eropa, meski prospek penjualan mobil penumpang secara umum lemah dan terjadi penghapusan subsidi di beberapa negara, mobil listrik masih akan mewakili sekitar satu dalam empat mobil terjual.
Di Indonesia, penjualan mobil listrik juga terus naik. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales atau dari pabrik ke dealer mencapai 5.358 unit pada Agustus lalu. Sedangkan penjualan mobil keseluruhan pada bulan yang sama 76.304 unit, yang berarti market share mobil listrik di Tanah Air sudah menembus 7%.
Potensi Untung Besar
Berkaca dari keberhasilan India memikat investasi produsen mobil listrik dunia yang pasarnya ke depan makin besar, maka satu hal yang tidak boleh lupa dilakukan Indonesia yakni memberi kepastian hukum yang kuat, jelas, tidak ambigu, konsisten, dan dapat diakses siapa saja. Ini misalnya, insentif untuk pembelian mobil listrik buatan dalam negeri harus berjangka waktu panjang, minimal 10 tahun atau lebih, dengan diskon pajak langsung diterapkan di depan.
Hal ini akan menjadi win-win solution bagi kedua pihak. Bagi investor, mereka dapat lebih diyakinkan ada jaminan perlindungan pasar untuk jasa membenamkan dana investasinya yang besar plus memperkuat ekosistem baterai dan mobil listrik RI. Di sisi lain, Indonesia bisa optimal memanfaatkan pasar mobil listrik global yang masih bertumbuh dan diproyeksi kian naik, di tengah penurunan penjualan mobil konvensional.
Indonesia juga akan diuntungkan dengan pengurangan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang luar biasa besar, subsidi yang sangat rawan memicu gejolak politik bila dipangkas langsung. Selain itu, berarti mengurangi ketergantungan tinggi terhadap impor minyak/BBM yang membengkak, yang kian menggerogoti surplus neraca perdagangan RI. Apalagi, potensi listrik dari energi baru dan terbarukan (EBT) kita melimpah dari Sabang sampai Merauke, namun masih sangat sedikit dimanfaatkan!

