Surplus Neraca Perdagangan Melonjak 71% Tembus US$ 4,24 Miliar November
JAKARTA, investortrust.id - Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, neraca perdagangan barang Indonesia tercatat menembus US$ 4,24 miliar November 2024, melonjak 71% dibanding surplus US$ 2,48 miliar pada Oktober lalu. Ini merupakan surplus neraca perdagangan 55 bulan beruntun.
"Surplus sebesar US$ 4,24 miliar membuat Indonesia terus mempertahankan tren serupa yang dimulai sejak bulan Mei 2020 lalu. Ini surplus sudah terjadi selama 55 bulan berturut-turut," kata Amalia dalam konferensi pers, di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (16/12/2024).
Baca Juga
Amalia mengatakan, pada periode November 2024, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 24,01 miliar. Sedangkan realisasi impor lebih rendah sehingga mencatatkan surplus.
"Ekspor Indonesia periode November 2024 sebesar US$ 24,01 miliar, turun 1,70% month to month, namun secara tahunan meningkat dari November 2023. Sedangkan total nilai impor mencapai US$ 19,59 miliar atau turun 10,71% dari Oktober 2024," ujarnya.
Baru Bara Penyumbang Surplus
Ia menjelaskan, komoditas yang memberikan sumbangsih surplus utama adalah bahan bakar mineral atau batu bara, lemak, dan minyak hewan nabati (HS 15). Selain itu, besi dan baja (HS 71).
"Surplus neraca perdagangan pada November 2024 lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Selain itu, lebih tinggi dari bulan yang sama tahun lalu," ujarnya.
Baca Juga
Hari Ini Paket Kebijakan Ekonomi Akselerasi Diluncurkan, Simak Apa Isinya
Kumulatif
Secara kumulatif sepanjang Januari sampai November 2024, total ekspor mencapai US$ 241,25 miliar atau naik 2,06% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ekspor nonmigas mencapai US$ 226,91 miliar atau naik 2,24%, sedangkan ekspor migas mencapai US$ 14,34 miliar atau turun sebesar 0,71%.
"Jika kita lihat menurut sektornya, maka peningkatan nilai ekspor nonmigas secara kumulatif terjadi di sektor industri pengolahan dan pertanian yang menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor nonmigas Januari sampai November 2024. Andil masing-masing 3,40% dan 0,46%," tuturnya.

