BTN (BBTN) Tetap Ekspansif di Tengah Lonjakan Biaya Dana, Ini Pandangan Analis
JAKARTA, investortrust.id - Sektor perbankan nasional mampu mencatatkan pertumbuhan kinerja yang mengesankan sepanjang semester I-2024, meskipun diadang suku bunga tinggi. Salah satunya PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dengan torehan masuk dalam daftar jajaran bank dengan pertumbuhan kredit di atas rata-rata industri.
Strategi ekspansi di tengah lonjakan biaya dana memang berimplikasi pada tekanan net interest income dan net interest margin. Tapi, BTN tampak tidak terlalu peduli dan tetap fokus mengoptimalkan fungsi intermediasi demi menggerakkan ekonomi. Manajemen pun optimistis masa sulit ini bakal segera berlalu seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan pada semester II tahun ini.
Analis Sinarmas Sekuritas Arief Machrus mengatakan, melihat performa BTN (BBTN) dalam beberapa bulan terakhir, ada sejumlah torehan yang berhasil dicatatkan. Di antaranyan, BTN bersama dengan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat sebagai bank dengan pertumbuhan kredit paling mengesankan. Bahkan, angka pertumbuhan tersebut telah melampaui target yang ditetapkan sebelumnya.
Baca Juga
Kinerja Unit Usaha Syariah dan Agenda Spin Off Lambungkan Prospek Saham BBTN
“BBTN juga berhasil membukukan pertumbuhan dana yang sinifikan melalui deposito berjangka. Rasio CASA stabil dan cenderung membaik. Hal ini menggambarkan kualitas aset terus membaik,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, kemarin (14/8). BTN berhasil menjaga pertumbuhan funding karena agresif menyasar kelas menengah melalui produk BTN Prospera dan layanan digital.
Pilihan BTN untuk tetap ekspansif dalam menyalurkan kredit mendorong Sinarmas Sekuritas mempertahankan rekomendasi add saham BBTN dengan target harga Rp 1.500. Targtet tersebut merefleksikan perkiraan PB sekitar 0,6%. Dengan target harga tersebut terbuka potensi penguatan mencapai 14%.
Pandangan positif terhadap laju kinerja BBTN juga datang dari Sucor Sekuritas Edward Lowis. Menurut dia, ada empat perbaikan yang ditunjukkan BTN hingga akhir paruh pertama 2024. Pertama, pertumbuhan kredit, Kedua, komposisi dana pihak ketiga yang kini banyak disupport oleh current account saving account (CASA), ketiga penerapan manajemen risiko secara terukur yang berdampak pada peningkatan kualitas kredit, dan keempat kinerja unit usaha syariah dengan pertumbuhan tumbuh dobel digit untuk semua indikator.
Baca Juga
BTN Mobile Menjadi “SuperPower Apps”, Begini Dampaknya bagi Kinerja
Terkait spin off Unit Usaha Shariah (UUS) BBTN, dia mengatakan, menjadi sentimen positif yang ditunggu pemodal. “Pengumuman CSPA akuisisi bank syariah ditargetkan sebelum Oktober 2024 dan diharapkan bank syariah ini sudah terbentuk pada kuartal I-2025,” terangnya dalam riset.
Sentimen lainnya, terang Edward, optimisme terhadap keberhasilan BBTN untuk menjaga biaya dana tetap terkendali pada paruh kedua tahun ini. Begitu juga dengan pertumbuhan kredit diharapkan tetap tinggi lebih dari 10% sampai akhir tahun.
Hal ini mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp 1.640. Potensi penurunan terhadap harga saham BBTN kian mengecil, sehingga potensi kenaikan kini lebih tinggi.
Baca Juga
Pandangan positif dan target harga saham BBTN tinggi juga datang dari analis analis Mandiri Sekuritas Boby Kristanto Chandra dan Kresna Hutabarat. Kedua analis ini menyebutkan bahwa laba bersih BTN berhasil tumbuh stabil semester I-2024, meski terjadi kenaikan beban bunga. Stabilnya pertumbuhan laba didukung keberhasilan dalam mencetak kenaikan pendapatan di luar bunga dan menekan biaya provisi.
BTN juga diperkirakan bisa mengerek ROE dalam jangka panjang, seiring dengan peluang negosiasi ulang kembali struktur hipotetik bersubsidi lebih menguntungkan perseroan, spin off unit bisnis syariah, dan potensi pemulihan pendapatan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Hal ini mendorong Mandiri Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp 1.800.
Grafik Saham BBTN

