Kinerja Unit Usaha Syariah dan Agenda Spin Off Lambungkan Prospek Saham BBTN
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menunjukkan perbaikan dari kuartal ke kuartal yang tercermin pada sejumlah empat indikator. Pertama, pertumbuhan kredit yang ditopang oleh segmen bisnis yang semakin terdiversifikasi. Antara lain, segmen kredit high yield loan dan KPR non subsidi atau komersial dengan ticket size di atas Rp750 juta.
Kedua, komposisi dana pihak ketiga yang kini banyak disupport oleh current account saving account (CASA) berkat produk dan layanan BTN digital. Sementara itu, sumber dana dari time deposit (deposito) juga semakin beragam setelah manajemen membagi segmen nasabah institusi dan mulai menggarap kelas menengah melalui produk BTN Prospera.
Ketiga, penerapan manajemen risiko secara terukur yang berdampak pada peningkatan kualitas kredit. Hal ini tercermin pada perbaikan non performing loan (NPL) yang berhasil ditekan menjadi 3,1% pada semester I-2024 dari sebelumnya di angka 3,7%.
Baca Juga
BTN Syariah Melesat 32%, Sumbangan kian Membesar terhadap Total Laba BTN (BBTN)
Keempat, kinerja unit usaha syariah yang berhasil tumbuh dobel digit di semua indikator, mulai dari pembiayaan yang tumbuh 22,2%, aset naik 20% dan perolehan laba bersih yang melonjak 31,7%. Menariknya, non performing finance (NPF) turun drastis dari 3,3%menjadi 2,8%. Lonjakan kinerja BTN Syariah ini dipicu oleh pergeseran minat konsumen ke KPR berbasis syariah dengan skema angsurat tetap sepanjang waktu.
Berbagai pencapaian ini, menurut sejumlah analis, diharapkan menjadi sentimen positif terhadap performa keuangan perseroan lebih baik ke depan.Sedangkan rencana spin off UUS diyakini bakal terealisasi tahun ini, sehingga bank syariah baru bentukan BTN tersebut bisa beroperasi resmi pada awal tahun depan.
Beberapa faktor tersebut mendorong sejumlah sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga masih menggiurkan.
Analis Sucor Sekuritas memberikan pandangan positif terhadap rencan spin off UUS menjadi bank syariah bersamaan dengan akuisisi bank syariah kecil. “Pengumuman CSPA akuisisi bank syariah ditargetkan sebelum Oktober 2024 dan diharapkan bank syariah ini sudah terbentuk pada kuartal I-2025,” terangnya dalam riset.
Baca Juga
Saham BTN (BBTN) Melesat Usai Batal Akuisisi Muamalat, Kok Bisa?
Beredar kabar bahwa PT Bank Victoria Syariah Tbk akan menjadi bank yang bakal diakuisisi BTN setelah gagal mengakuisisi PT Bank Muamalat Indonesia tidak dilanjutkan. Pembatalan akuisisi Bank Muamalat ini telah disampaikan resmi kepada kementerian BUMN dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Kami memperkirakan CSPA akuisisi bank syariah akan dilaksanakan sebelum Oktober 2024 dan entitas baru BTN Syariah, penggabungan unit usaha syariah dan bank syariah yang diakusisi, sudah mulai beroperasi resmi tahun depan,” tulis analis Sucor Sekuritas Edward Lowis dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, kemarin.
Terkait kinerja keuangan BTN sepanjang semester I-2024, dia mengatakan, tanda-tanda perbaikan sudah terlihat, seperti penurunan biaya dana dalam beberapa bulan terakhir. Bunga deposito turun menjadi 6% pada Juni 2024, dibandingkan Mei 2024 sekitar 6,3%.
Penurunan terjadi setelah perseroan mengalihkan basis pendanaan ke lembaga menengah berbiaya rendah dan gencar menyasar deposan ritel kaya. Hingga Juni 2024, porsi simpanan institusi menengah meningkat menjadi 24,5%, dibandingkan Januari 2024 sekitar 19,8%. Sebaliknya segmen institusi besar berbiaya mahal turun dair 80,2% menjadi 75,5%.
Sejumlah upaya tersebut berhasil menurunkan biaya campuran pendanaan atau biaya simpanan perseroan turun sekitar 10 basis poin menjadi 3,9% pada Juni 2024, dibandingkan dengan Maret 2024 sekitar 4,3%. Perseroan juga berhasil menekan biaya kredit menjadi 0,6%, dibandingkan perkiraan 1-1,1% dan berhasil biaya provisi.
“Keberhasilan menjaga biaya lebih rendah mendorong laba bersih perseroan bertumbuh sebesar 3% menjadi Rp 1,5 triliun pada semester I-2024. Realisasi ini sudah sesuai dengan perkiraan Sucor Sekuritas,” tulisnya dalam riset tersebut.
Baca Juga
Kredit Bank BTN (BBTN) Rp 352 Triliun, Laba Bersih Tembus Rp 1,50 Triliun Semester I-2024
Edward menambahkan, BTN diperkirakan mampu untuk menjaga biaya dana tetap terkendali memasuki paruh kedua tahun ini. Begitu juga dengan pertumbuhan kredit diharapkan tetap tinggi lebih dari 10% sampai akhir tahun.
Berbagai faktor tersebut mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp 1.640. Potensi penurunan terhadap harga saham BBTN kian mengecil, sehingga potensi kenaikan kini lebih tinggi.
Target harga tersebut juga mempertimbangkan peluang perseroan untuk menjaga kualitas aset tetap baik. Target tersebut juga mempertimbangkan upaya perseroan untuk menekan rasio kredit bermasal (NPL) gross turun ke bawah 3%, dibandingkan semester I-2024 sebesar 3,1%.
Performa UUS
Pandangan positif terhadap kinerja keuangan BTN juga disampaikan Mandiri Sekuritas dalam riset terbarunya. Analis Mandiri Sekuritas Boby Kristanto Chandra dan Kresna Hutabarat menyebutkan bahwa laba bersih BTN berhasil tumbuh stabil, meski terjadi kenaikan beban bunga. Stabilnya pertumbuhan laba didukung keberhasilan perseroan mencetak kenaikan pendapatan di luar bunga dan menekan biaya provisi.
BTN juga diperkirakan bisa mengerek ROE dalam jangka panjang, seiring dengan peluang negosiasi ulang kembali struktur hipotetik bersubsidi lebih menguntungkan perseroan, spin off unit bisnis syariah, dan potensi pemulihan pendapatan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Hal ini mendorong analis Mandiri Sekuritas Boby Kristanto Chandra dan Kresna Hutabarat untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp 1.800. Dengan demikian terbuka peluang penguatan saham emiten yang fokus penyaluran kredit kepemilikan rumah ini.
Grafik Saham BBTN

