Pasar Global Banjir Pasokan Nikel, Prospek Saham ANTM dan INCO Tetap Menggiurkan
JAKARTA, investortrust.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyampaikan, serangkaian peristiwa geopolitik telah berdampak pada kenaikan harga nikel sepanjang di semester I-2024. Kenaikan harga tersebut dianggap melebihi perkiraan awal.
Pasalnya kata Analis Mirae Asset Sekuritas, Rizkia Darmawan pihaknya melihat adanya kelebihan produksi nikel dari Indonesia, kemudian perlambatan ekonomi global, dan permintaan yang lebih rendah dari China yang diprediksi membuat harga nikel akan tenggelam.
Namun, saat waktu berjalan terjadi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, lalu larangan London Metal Exchange (LME) terhadap nikel Rusia, dan ketegangan domestik di Kaledonia Baru. Rentetan peristiwa tadi mendorong harga nikel ke level US$ 21.000 per ton pada minggu ketiga bulan Mei.
Sementara untuk ke depan, Darma memperkirakan harga komoditas ini akan tertekan. Selain karena peningkatan tarif pada barang-barang China, ada masalah pungutan yang lebih tinggi pada komoditas mineral yang Darma dapat mengganggu pasar nikel.
Baca Juga
"Gangguan ini mungkin diakibatkan oleh berkurangnya permintaan AS untuk barang-barang China, yang menyebabkan aktivitas manufaktur yang lebih lambat pada kendaraan listrik atau EV dan baja tahan karat. Akibatnya, permintaan nikel lebih rendah," sambung dia dalam risetnya dikutip Selasa, (13/8/2024).
Highlight Kinerja ANTM
Pasalnya kata dia, saat ini China menyerap sebagian besar produksi nikel olahan Indonesia dan situasi ini juga dapat menghambat produksi nikel Indonesia.
Dengan data ekonomi yang lemah baru-baru ini dari China dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat pada paruh kedua tahun 2024, dikombinasikan dengan produksi tinggi yang berkelanjutan dari Indonesia, menyebabkan kelebihan pasokan di harga nikel.
Highlight Kinerja INCO
"Untuk itu kami memperkirakan harga nikel akan bergerak ke samping dan berkisar antara US$ 16.500 - US$ 16.750 per ton pada semester II-2024," tuturnya.
Secara keseluruhan, dengan ekspektasi potensi kenaikan harga nikel yang terbatas tadi, hal itu dinilai akan mempengaruhi dari sisi kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Dikatakan pendapatan ANTM hanya akan bersandar pada segmen emas, karena kenaikan harga emas dan peningkatan permintaan emas batangan.
Baca Juga
Antam (ANTM) Rilis Emas Batangan Seri ‘Indonesia Tanah Air Beta’ Jelang HUT ke-79 RI
Sedangkan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang menjadi produsen nikel murni, dinilai masih akan berfokus pada pengelolaan biaya untuk mengurangi penurunan pendapatan lebih lanjut. Meski begitu INCO diyakini masih akan mengalami penurunan pendapatan secara tahunan karena tertekan oleh penurunan harga nikel. Dari sisi konsensus sendiri, pendapatan ANTM dan INCO diproyeksi menurun tahun ini.
Namun dengan mencermati valuasi saham yang masih relkatif murah dengan price earning 7kali untuk ANTM dan 5,4 kali untuk INCO, maka Mirae Asset memberikan rating trading buy untuk saham ANTM, dengan target price (TP) Rp 1.480.
Di sisi lain, untuk INCO direkomendasikan trading buy dengan TP sebesar Rp 4.240 per saham. Masing-masing memiliki potential upside sebesar 15,2% dari harga saham saat ini.
Grafik Harga Saham ANTM dan INCO secara Ytd:

