IHSG Terjun hingga Net Sell Rp 508 Miliar, tapi Lima Saham Ini justru Diburu Asing
JAKARTA, investortrust.id – Pemodal asing hanya mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 508,01 miliar, meskipun indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (5/8/2024), anjlok sebanyak 248,47 (3,40%) menjadi 7.059,65.
Net sell terbanyak melanda lima saham berikut, yaitu saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 394,25 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 332,84 miliar, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp 91,43 miliar, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp 60,49 miliar, dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) Rp 53,13 miliar.
Baca Juga
Sedangkan lima saham berikut justru berhasil catatkan pembelian bersih (net buy) pemodal asing, yaitu saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 246,50 miliar, PT Astra Interantional Tbk (ASII) Rp 163,20 miliar, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) Rp 32,15 miliar, PT Bank Jago Tbk (ARTO) Rp 32,08 miliar, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp 30 miliar.
Terkait pergerakan hari ini, IHSG sempat ambrol lebih dari 305 poin mencapai 4,15% hingga mencapai 6.998,81. Penurunan tersebut sejalan dengan kejatuhan sejumlah bursa saham Asia lainnya.
Berdasarkan data BEI, sektor saham dengan penurunan paling dalam melanda saham sektor energi 4,94%, sektor material dasar 4,69%, sektor transportasi 4,23%, sektor infrastruktur 3,15%, dan sektor properti 3,15%.
Baca Juga
Hingga Juni 2024, 7 Multifinance dan 28 Pinjol Belum Penuhi Aturan Modal Minimum
Penurunan dahsyat lainnya melanda saham sektor keuangan 2,69%, sektor teknologi 2,92%, sektor industri 3,73%, sedangkan penurunan paling kecil melanda saham sektor kesehatan 0,72%.
Kejatuhan indeks tersebut mengikuti pelemahan dalam sejumlah bursa saham Asia, seperti indeks Nikkei anjlok lebih dar 12%, indeks Kospi 8,77%, Strait Times turun 4,84%, indeks Taiwan melemah 8,35%, dan indeks Malaysia terjerembab 3,48%. Penurunan bursa saham Asia dipicu kekhawatiran ekonomi Amerika Serikat (AS) bakal lebih buruk, dibandingkan perkiraan semula.
Grafik IHSG

