Kinerja Keuangan Cinema XXI (CNMA) Anjlok hingga September 2026, Ini Pemicunya
JAKARTA, investortrust.id – PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) atau Cinema XXI mencatatkan penurunan kinerja keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Pendapatan turun 7,97% menjadi Rp 4,2 triliun secara tahunan (year on year/yoy). Laba atribusi entitas induk turun lebih tajam dari Rp 444,91 miliar menjadi Rp 367,63 miliar.
Di tengah tekanan tersebut, Cinema XXI masih mencatatkan EBITDA sebesar Rp1,2 triliun dan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp931,4 miliar hingga kuartal III-2026. Direktur Utama Cinema XXI, Suryo Suherman, mengungkapkan bahwa tantangan ekonomi global dan kondisi makroekonomi turut memengaruhi daya beli masyarakat. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi perseroan dalam mempertahankan kinerja bisnis.
Guna merespons kondisi tersebut, Cinema XXI berfokus menjaga keterjangkauan harga (affordability), terutama dengan meminimalisasi kenaikan harga tiket bioskop agar tetap dapat diakses berbagai lapisan masyarakat.
Baca Juga
Ditopang Bisnis Digital, Bank Raya (AGRO) Kantongi Laba Rp 21 Miliar
“Dengan memperhatikan dinamika ekonomi, kami berupaya meminimalisasi kenaikan harga tiket. Hal ini bertujuan agar bioskop kami tetap dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat, sekaligus menghadirkan pengalaman menonton yang imersif dan berkualitas,” ujar Suryo, dikutip Jumat (30/10/2026).
Berdasarkan komposisi pendapatan, bisnis penjualan tiket bioskop masih menjadi kontributor terbesar bagi Cinema XXI. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, segmen ini menghasilkan pendapatan Rp2,5 triliun atau sekitar 59,1% dari total pendapatan perseroan. Sementara itu, bisnis makanan dan minuman (food & beverages/F&B) menyumbangkan pendapatan Rp1,4 triliun atau setara 34,7% dari total pendapatan.
Meski secara kumulatif kinerja keuangan mengalami kontraksi, Cinema XXI mencatatkan perbaikan kinerja pada kuartal III-2026. Pendapatan selama Juli-September 2026 mencapai Rp1,5 triliun, meningkat 7,5% dibandingkan Rp1,4 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga
KPK Ungkap Korupsi Cukai Rokok PT Djarum Rugikan Negara hingga Triliunan Rupiah
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh peningkatan pendapatan F&B sebesar 13,9% secara tahunan. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya rata-rata belanja F&B per penonton sebesar 15,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Adapun pendapatan dari penjualan tiket bioskop relatif stabil, dengan rata-rata harga tiket (average ticket price/ATP) meningkat 2% secara tahunan. Kinerja tersebut didukung oleh peningkatan okupansi studio premium, yakni The Premiere dan IMAX.
Selain mengandalkan penjualan tiket dan F&B, Cinema XXI terus mengembangkan sumber pendapatan lain melalui bisnis periklanan dan platform digital. Upaya diversifikasi tersebut mulai menunjukkan perkembangan. Pada kuartal III-2026, pendapatan dari segmen lainnya tumbuh 59,1% secara tahunan.
Baca Juga
IHSG Intraday Sesi I Anjlok Sentuh 4.987, Semua Sektor Saham Tersungkur
Sepanjang 2026, perseroan telah membuka empat lokasi bioskop baru dengan tambahan 14 layar, yakni Ciplaz Cipanas XXI, 23 Semarang XXI, Grand Mall Maros XXI, dan Sorong Modern City XXI. Hingga 29 Oktober 2026, jaringan bioskop Cinema XXI telah mencapai 271 lokasi dengan total 1.402 layar yang tersebar di 55 kota dan 31 kabupaten di Indonesia.
Perseroan juga berencana membagikan dividen interim sebesar Rp4 per saham dengan total Rp 333,1 miliar. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara pengembangan bisnis dan penciptaan nilai bagi pemegang saham. Dividen akan dibagikan pada 19 November setelah cum dividen berakhir 6 November 2026.
Ke depan, Cinema XXI akan melanjutkan strategi optimalisasi pendapatan dari bisnis inti dan lini usaha lainnya, inovasi produk dan layanan, serta ekspansi jaringan secara selektif dan terukur. “Kami juga terus memperkuat efisiensi dan disiplin operasional untuk mendukung keberlanjutan bisnis,” pungkas Suryo.
