Bukit Asam (PTBA) Cetak Kenaikan Laba Bersih Jadi 3 Kali Lipat di Semester I-2026, Ini Pendongkraknya
JAKARTA, investortrust.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 2,65 triliun pada semester I-2026 atau naik 218% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy).
Kinerja cemerlang ini sejalan dengan kenaikan pendapatan 8% (yoy) menjadi Rp 22,03 triliun sampai akhir Juni 2026. Capaian ini didongkrak penguatan harga jual rata-rata batu bara sebesar 10% (yoy) berkat kenaikan newcastle index 25% (yoy) dan ICI-3 15% (yoy), yang menutup penurunan volume penjualan sebesar 2% (yoy).
“Di tengah momentum penguatan harga batu bara global, perseroan mampu mengoptimalkan peluang pasar melalui strategi penjualan yang adaptif, didukung pelaksanaan program efisiensi secara cermat dan tepat sasaran,” ujar Direktur Utama Bukit Asam, Bambang Ismawan pada Selasa (1/9/2026).
Baca Juga
PTBA Jual 21,10 Juta Ton Batu Bara pada Semester I-2026, Intip Target Semester II
Adapun hingga akhir Juni 2026, porsi penjualan PTBA didominasi kebutuhan dalam negeri sebesar 51%, dengan 49% sisanya diekspor. Pada akhir periode ini, lima negara tujuan ekspor terbesar perseroan ditempati oleh Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand. “Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat kinerja penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan,” sambung Bambang.
Pada semester I-2026, keuntungan emiten pelat merah itu turut didukung penurunan beban pokok pendapatan sebesar 2% (yoy) menjadi Rp 17,78 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya volume operasional, baik produksi batu bara yang turun 10% (yoy) maupun angkutan yang turun 6% (yoy).
Di sisi lain, stripping ratio PTBA juga tercatat lebih rendah, yakni di angka 5,26x dari 6,17x pada pada semester I-2025. Dari segi operasional, biaya bahan bakar PTBA untuk kebutuhan jasa penambangan maupun angkutan kereta api, naik. Penambahan biaya dipicu peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) sekitar 34% (yoy) menjadi Rp 19.503 per liter dalam enam bulan pertama tahun ini, akibat konflik di Selat Hormuz pada akhir Februari 2026.
Manajemen juga mengakui terdapat kenaikan beban operasional sebanyak 13% (yoy) menjadi Rp 184,84 miliar sepanjang Januari-Juni 2026 akibat kenaikan di komponen beban umum dan administrasi.
Baca Juga
Perkuat Infrastruktur Muara Enim, Bukit Asam (PTBA) Bangun 2 'Flyover'
Namun Bambang mengeklaim bahwa biaya operasional perseroan tetap terjaga di tengah tantangan tersebut. Hal ini diupayakan melalui program efisiensi yang tepat sasaran dan disiplin operasional secara berkelanjutan.
“Capaian periode ini mencerminkan kemampuan perseroan dalam menangkap momentum pasar secara optimal, dengan tetap menjaga disiplin operasional dan efisiensi biaya sebagai fondasi pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan,” tuturnya.
Laba bersih PTBA menjadi tiga kali lipat dalam satu semester juga dikontribusi oleh penghasilan keuangan sebesar Rp 108,58 miliar yang naik 6% (yoy), terutama karena kenaikan laba dari nilai tukar mata uang asing. Perseroan juga mencatatkan penurunan biaya keuangan sebesar 25% (yoy) menjadi Rp 98,99 miliar, seiring penurunan beban bunga dari pinjaman bank.
Posisi Keuangan
Hingga 30 Juni 2026, perseroan tercatat masih memiliki total aset sebesar Rp 48,1 triliun yang naik 10% dibandingkan akhir 2025. Hal ini terutama didorong peningkatan kas dan setara kas serta piutang usaha, seiring peningkatan pendapatan perusahaan.
Dalam jangka waktu yang sama, total liabilitas PTBA pada semester I-2026 naik 7% dari posisi Desember 2025, menjadi Rp 22,76 triliun. Sedangkan ekuitas perusahaan naik 12% dibandingkan 31 Desember 2025, menjadi Rp 25,34 triliun pada akhir Juni 2026.
Baca Juga
Net Buy Melambung Rp 2,02 Triliun, Saham BBRI dan BBCA Diburu
Selanjutnya arus kas bersih PTBA dari aktivitas operasi naik 108% (yoy) menjadi Rp 4,63 triliun karena kenaikan penerimaan dari pelanggan. Sementara, arus kas bersih untuk aktivitas investasi turun dari Rp 1,34 triliun akhir tahun lalu, menjadi Rp 1,26 triliun per 30 Juni 2026 akibat berkurangnya perolehan aset tetap dan tanaman produktif.
Adapun serapan belanja modal (capex) PTBA sepanjang semester I-2026 tembus Rp 1,09 triliun yang mayoritas untuk pengembangan angkutan batu bara relasi Tanjung Enim-Kramasan. “Dengan disiplin operasional dan pengelolaan bisnis yang prudent, kami optimistis dapat menjaga kinerja yang sehat dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutup Corporate Secretary Division Head Bukit Asam, Eko Prayitno.
