Laba Bukit Asam (PTBA) Semester I Melemah, Bagaimana dengan Semester II?
JAKARTA, investortrust.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan penurunan laba bersih sebanyak 26,77% menjadi Rp 2,03 triliun pada semester I-2024, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 2,77 triliun. Realisasi ini setara dengan 35,5% dari target Stockbit dan 39,3% dari target konsensus.
Penurunan tersebut berbanding terbalik dengan kenaikan pendapatan yang diperoleh PTBA naik 4,15% secara yoy menjadi Rp 19,64 triliun pada semester I-2024, dibandingkan Rp 18,86 pada semester I-2023.
Baca Juga
Bertumbuh, PTBA Raup Pendapatan Rp 19,64 Triliun di Semester I-2024
Menurut riset Stockbit, laba bersih yang terlihat lebih lemah dari ekspektasi disebabkan oleh peningkatan beban pokok penjualan lebih tinggi, dibandingkan ekspektasi. “Hal ini terjadi akibat nilai penarikan persediaan yang lebih tinggi, sehingga realisasi margin laba kotor pada semester I 2024 (17,3%) lebih rendah dari ekspektasi kami (22,7%),” tulis Investment Analyst Stockbit, Hendriko Gani dalam risetnya, Senin (5/8/2024).
Pada semester II 2024, Stockbit memproyeksi outlook PTBA akan dipengaruhi dua hal, yaitu volume penjualan PTBA, di mana manajemen masih optimistis bahwa perseroan dapat mencapai volume penjualan sebesar 43,1 juta ton dan rata-rata harga batu bara pada semester II-2024 bisa lebih tinggi dari realisasi semester I-2024.
“Kami melihat terdapat dua hal yang mempengaruhi mempengaruhi kinerja PTBA pada semester II 2024. Pertama, harga batu bara yang bergerak lebih tinggi pada sepanjang kuartal 3 berpotensi meningkatkan harga jual rata-rata (ASP) PTBA,” jelasnya.
Per hari Jumat (3/8), harga batu bara acuan Newcastle berada di level US$ 144/ton. Apabila harga batu bara terus bertahan di level ini, Stockbit menilai PTBA berpotensi membukukan ASP yang lebih baik, atau bahkan lebih tinggi dari asumsi Stockbit sehingga PTBA berpotensi membukukan pendapatan dan margin yang lebih baik.
Baca Juga
Tingkatkan Kapasitas Angkut, Afiliasi Bukit Asam (PTBA) Tambah Armada Kapal
Kedua, volume penjualan yang lebih tinggi dibanding Semester I 2024. Menurut catatan Stockbit, dalam earnings call PTBA pada Jumat (3/8), manajemen PTBA mengatakan bahwa mereka masih optimis untuk mencapai target volume penjualan sebesar 43,1 juta ton, yang mana lebih tinggi dari asumsi Stockbit.
“Hal ini dapat mendorong kinerja pendapatan dan laba bersih PTBA berpotensi lebih baik ke depannya,” papar Hendriko.
Sementara itu, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyarankan untuk buy on weakness saham PTBA dengan support 2.500, resistance 2,740 dan target price 2.770-2.860.
Dalam satu bulan, saham PTBA telah berhasil naik 0,78%. Hingga pukul 14.42 hari ini (5/8/2024) saham PTBA melemah 140 poin (5,15%) menjadi 2.580 dengan volume perdagangan sebesar 40,86 juta dan nilai transaksi sebesar Rp 106,51 miliar. Sementara itu, frekuensi perdagangan yang tercatat adalah 17.249 kali dengan kapitalisasi pasar senilai Rp 29,72 triliun.
Grafik PTBA

