Bertumbuh Sesuai Ekspektasi, Saham BSI (BRIS) Layak Dipertahankan Beli dengan Target Harga Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI dipertahankan dengan prospek positif setelah perseroan mencatatkan laba bersih Rp 4,2 triliun pada semester I 2026. Prospek tersebut mempertimbangkan peluang pertumbuhan kinerja keuangan lebih kuat menjelang semester II tahun ini.
Hal ini mendorong analis BRI Danareksa Sekuritas Nataniella Eva Kezia dan Victor Stefano dalam riset terbarunya mempertahankan rekomendasi beli saham BRIS dengan target harga Rp 3.100 per saham. Target harga tersebut mempertimbangkan capaian semester I-2026 telah sejalan dengan estimasi, yaitu setara dengan 50% dari estimasi BRI Danareksa untuk 2026 dan 48% dari estimasi consensus untuk tahun ini.
Baca Juga
Naik Dua Digit, Bank Syariah Indonesia (BRIS) Cetak Laba Bersih Rp 4,16 Triliun
BRIS berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,0 triliun di kuartal II 2026, turun 11% secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq), namun masih tumbuh 5% secara tahunan (year-on-year/yoy). Dengan demikian, laba bersih perseroan pada semester I 2026 mencapai Rp 4,2 triliun atau tumbuh 11% yoy.
Pertumbuhan laba pada semester I-2026 didukung penurunan biaya provisi (provision) yang mampu mengimbangi tekanan terhadap pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII). Pada kuartal II 2026, net interest margin (NIM) BRIS turun 40 basis poin secara qoq dan 106 basis poin yoy menjadi 4,8%. Penurunan ini akibat imbal hasil pembiayaan yang turun menjadi 8,2%.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Rp 18.000, 'Buyback' Jadi Rp 2,61 Juta
Sedangkan biaya dana (cost of fund/CoF) meningkat 18 basis poin qoq menjadi 2,3%. Tekanan margin tersebut turut membuat pre-provision operating profit (PPOP) turun menjadi Rp3,0 triliun, atau melemah 14% qoq dan 5% yoy. Beban operasional meningkat 3% qoq dan 16% yoy, antara lain akibat penyelesaian peningkatan sistem core banking pada Mei 2026.
Di sisi lain, pendapatan berbasis biaya (fee-based income) tumbuh 59% yoy. Namun, kenaikan beban operasional membuat rasio biaya terhadap pendapatan atau cost to income ratio (CIR) meningkat menjadi 54,9%.
Penurunan Provisi Turun
Penurunan provisi menjadi salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan laba BRIS. Provisi tercatat Rp 447 miliar pada kuartal II 2026, turun 26% qoq dan 36% yoy. Penurunan tersebut membawa cost of credit (CoC) menjadi 0,6%, terutama didorong peningkatan kualitas salah satu debitur BUMN menjadi Kol-1 pada pembiayaan korporasi serta perubahan komposisi pembiayaan menuju segmen dengan risiko lebih rendah.
Pembiayaan BRIS meningkat menjadi Rp 340 triliun, tumbuh 4% qoq dan 16% yoy. Pertumbuhan terutama berasal dari segmen korporasi sebesar 21% yoy, konsumer 17% yoy, dan UMKM 13% yoy. Bisnis emas juga mencatat pertumbuhan kuat sebesar 81% yoy.
Baca Juga
Perkuat Akses Pembiayaan UMKM, BSI (BRIS) Salurkan Pembiayaan Inklusif Rp 114,17 Triliun
Pertumbuhan dana pihak ketiga masih lebih tinggi, dibandingkan pembiayaan sehingga financing to deposit ratio (FDR) berada di 86,2%. Sementara itu, CASA turun menjadi 60,6%, seiring pertumbuhan deposito berjangka yang lebih kuat.
NII tumbuh 2% yoy menjadi Rp9,7 triliun meskipun NIM terkontraksi 51 basis poin yoy menjadi 5%. Sementara itu, penurunan provisi sebesar 22% yoy membuat CoC turun menjadi 0,7%. Sejumlah factor tersebut mendorong manajemen untuk mempertahankan panduan kinerja tahun ini. Adapun bisnis emas dan peluncuran Kartu Kredit Indonesia (KKI) dipandang menjadi faktor pendukung pemulihan NIM pada semester II 2026.
