Bitcoin Menguat Saat Trump Sebut Selat Hormuz Terbuka, Pasar Saham AS Tertekan
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin menunjukkan pergerakan berbeda dari pasar saham setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan Selat Hormuz telah kembali terbuka dan beroperasi.
Aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar itu melanjutkan penguatan sepanjang pekan, sementara pasar saham AS masih menghadapi tekanan.
Melansir CoinTelegraph, Rabu (19/8/2026), BTC/USD melanjutkan kenaikan setelah indeks S&P 500 memantul dari level 7.696, yang menjadi posisi terendah sejak 4 Agustus 2026.
Pergerakan Bitcoin tersebut terjadi setelah Trump mengunggah peta jalur minyak Selat Hormuz yang sebelumnya disebut tertutup melalui platform Truth Social. Dalam unggahan tersebut, kawasan itu diberi laberl sebagai ‘new US territory’.
Trump kemudian menyatakan bahwa tak ada pembicaraan maupun jadwal perundingan lebih lanjut dengan Iran. Ia juga mengatakan blokade laut masih berlaku, sementara Selat Hormuz disebut telah terbuka dan beroperasi.
“Blokade laut tetap berlaku sepenuhnya. Selat Hormuz terbuka dan beroperasi. Semua ranjau laut telah disingkirkan atau diledakkan,” tulis Trump.
Baca Juga
Rentang Harga Bitcoin Stagnan 5 Pekan, September Berpotensi Jadi Bulan Berat
Ketegangan terkait Selat Hormuz menjadi perhatian pasar karena jalur tersebut merupakan salah satu rute penting bagi perdagangan minyak dunia. Di tengah perkembangan itu, harga minyak justru relatif terkendali. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun sekitar 1% menjadi US$ 84 per barel.
Sementara itu, tekanan terlihat lebih jelas di pasar obligasi AS. Imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 30 tahun mencapai 5,34%, level tertinggi sejak Januari 2007.
Analis BNY Mellon Geoff Yu mengatakan, pergerakan harga obligasi memberikan sinyal peringatan bagi pasar. Kenaikan imbal hasil mencerminkan naiknya kompensasi yang diminta investor terhadap risiko inflasi, sekaligus dipengaruhi kebutuhan pemerintah untuk melakukan pembiayaan melalui utang.
Baca Juga
Pendiri Nansen Optimistis Bitcoin Tak Turun Lagi ke US$ 60.000, Apa Alasannya?
Bitcoin Hadapi Ujian Rebound
Di pasar kripto, analis dan trader Aksel Kibar menilai Bitcoin sedang berada pada titik penting untuk menguji keberlanjutan pemulihan harga.
Kibar menyoroti potensi pola reverse head and shoulders pada BTC/USD dengan area penting di sekitar US$ 62.300. Menurutnya, level itu menjadi titik yang perlu dipertahankan jika Bitcoin ingin melanjutkan rebound.
Jika struktur tersebut gagal terbentuk, Kibar memperkirakan Bitcoin berpotensi turun menuju US$ 53.000. Sebaliknya, apabila rebound bertahan dan pola teknikal berhasil dikonfirmasi, Bitcoin berpeluang menuju US$ 76.000.
Sebelumnya, Bitcoin sempat menguat hingga sekitar US$ 64.500. Namun, kenaikan itu masih tertahan di bawah garis tren atas dan 50-month exponential moving average (EMA), yang kini berada di sekitar US$ 65.827.
Jika melirik data CoinMarketCap, harga Bitcoin berada di level US$ 64.281,17 pada Rabu (19/8/2026), pukul 10.40 WIB, atau naik 0,33% dalam 24 jam terakhir.

