Rentang Harga Bitcoin Stagnan 5 Pekan, September Berpotensi Jadi Bulan Berat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) bergerak stagnan di kisaran US$ 63.500 pada Rabu pagi waktu Asia, memperpanjang konsolidasi selama sekitar lima minggu di tengah tarik-menarik antara arus dana masuk exchange-traded fund (ETF) dan tekanan jual dari penambang, serta perusahaan pemegang Bitcoin.
BTC tercatat berada di level US$ 63.526,38 atau melemah sekitar 0,6% dalam 24 jam terakhir. Pergerakan Bitcoin masih berada dalam rentang US$ 62.000–US$ 66.000 yang membatasi harga aset kripto terbesar tersebut sepanjang sebagian besar musim panas.
Direktur Senior perusahaan perdagangan Wincent Paul Howard mengatakan, pergerakan Bitcoin belakangan ini terutama ditopang arus masuk ETF yang relatif stabil. Namun, tekanan tersebut diimbangi aksi jual over the counter (OTC) dari penambang dan perusahaan seperti MicroStrategy.
“Pergerakan harga Bitcoin belakangan ini sebagian besar didorong oleh arus masuk ETF yang stabil, namun diimbangi oleh aksi jual OTC dari penambang dan perusahaan seperti MicroStrategy,” ujar Howard dilansir dari Coindesk, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, volume perdagangan kripto juga telah turun ke level terendah dalam sekitar tiga tahun. Kondisi tersebut membuat Bitcoin kekurangan katalis untuk bergerak signifikan ke salah satu arah.
Analis Bitfinex menilai terdapat dua sumber permintaan utama yang relatif tidak sensitif terhadap harga, yakni ETF dan perusahaan yang menjadikan Bitcoin sebagai aset treasury. Namun, aktivitas kas korporasi belakangan justru memberikan tekanan jual yang mengimbangi permintaan tersebut.
Kondisi tersebut turut menjelaskan terbatasnya kenaikan Bitcoin. BTC hanya menguat sekitar 2% pada pekan lalu meskipun terjadi arus masuk ETF yang kuat dan kinerja aset berisiko secara umum membaik.
Baca Juga
Pendiri Nansen Optimistis Bitcoin Tak Turun Lagi ke US$ 60.000, Apa Alasannya?
Menanti Data CPI AS
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke data inflasi Amerika Serikat melalui indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) yang akan dirilis Rabu (12/8/2026) waktu setempat, disusul data harga produsen (PPI) pada Kamis (13/8/2026).
Managing Partner STS Digital Jeff Anderson mengatakan kondisi likuiditas yang rendah membuat keyakinan pasar di kedua arah masih lemah. Volatilitas tersirat juga menurun karena investor menunggu kejelasan mengenai kebijakan moneter AS dan perkembangan Digital Asset Market Clarity Act.
“Keyakinan pasar lemah di kedua sisi karena kondisi likuiditas rendah yang mendominasi musim panas,” kata Anderson.
Menurut Anderson, kondisi tersebut membuat pasar berpotensi mengalami pergerakan lebih besar apabila Bitcoin berhasil keluar dari kisaran US$62.000–US$66.000.
Baca Juga
Permintaan Bitcoin Menguat, ETF AS Kembali Serap Dana US$ 865 Juta
Data CPI menjadi salah satu katalis penting bagi pasar karena merupakan indikator inflasi utama setelah pertemuan The Fed pada Juli. Investor akan mencermati data tersebut untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS.
Howard memperkirakan fase konsolidasi Bitcoin masih dapat berlanjut hingga pertengahan September apabila tidak terdapat katalis fundamental baru. Perkembangan regulasi melalui Digital Asset Market Clarity Act berpotensi menjadi pemicu pergerakan berikutnya.
Di pasar derivatif, posisi investor juga menunjukkan kecenderungan melakukan lindung nilai secara ketat. Kondisi tersebut mengindikasikan pelaku pasar belum mengambil posisi besar untuk mengantisipasi penembusan harga Bitcoin dalam waktu dekat.
Anderson mengingatkan, kondisi pasar dapat semakin kurang menguntungkan apabila fase stagnasi berlangsung terlalu lama. Secara historis, September juga menjadi salah satu bulan terlemah bagi Bitcoin, dengan rata-rata penurunan sekitar 4% sejak 2013 berdasarkan data CoinGlass.

