Rupiah Tertekan, Konflik Selat Hormuz Bayangi Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (15/5/2026), terseret sentimen geopolitik global dan penguatan mata uang Negeri Paman Sam di tengah memanasnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz. Pelemahan ini memperbesar tekanan eksternal terhadap perekonomian domestik, terutama di tengah ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 10.07 WIB, mata uang Garuda turun 0,26% ke level Rp 17.575 per US$. Tekanan terhadap rupiah sejalan dengan pelemahan sejumlah mata uang utama di kawasan Asia, termasuk mata uang negara-negara mitra dagang Indonesia.
Baca Juga
Yuan China tercatat melemah 0,13% di tengah berlangsungnya pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping. Yen Jepang turun 0,09%, rupee India melemah 0,06%, ringgit Malaysia terkoreksi 0,34%, dolar Singapura turun 0,09%, sementara baht Thailand melemah 0,19%.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai dolar AS berpotensi terus menguat seiring kenaikan harga minyak dunia. Menurut dia, momentum libur panjang di Indonesia justru menjadi periode krusial yang memperbesar tekanan terhadap rupiah.
“Kita melihat pada saat libur, ya dua hari ini, ada beberapa tensi geopolitik yang terus memanas terutama adalah di Selat Hormuz, antara AS dengan Iran,” kata Ibrahim, Jumat (15/5/2026).
Ia menjelaskan sentimen lain datang dari pertemuan Trump dan Xi Jinping yang memicu volatilitas di pasar keuangan global. Perhatian China terhadap keamanan jalur distribusi minyak mentah dari Iran melalui Selat Hormuz turut memperbesar sensitivitas pasar. “Ini secara geopolitik membuat dolar AS mengalami penguatan, harga minyak naik, rupiah melemah,” ujar dia.
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai ruang gerak Bank Indonesia terbatas selama libur panjang karena otoritas moneter hanya dapat melakukan intervensi melalui pasar internasional. Namun, intervensi tersebut dinilai belum cukup kuat untuk meredam tekanan eksternal yang datang secara masif.
“Karena liburnya pasar di Indonesia ini membuat tekanan yang begitu besar secara eksternal, sehingga membuat transaksi valuta asing di pasar internasional itu begitu luar biasa dampaknya,” katanya.
Baca Juga
Rupiah Tembus Rp17.520: Sektor Pertanian Bisa Jadi Penyelamat Ekonomi Nasional”
Selain faktor eksternal, Ibrahim menyoroti besarnya kebutuhan impor minyak mentah Indonesia sebagai sumber tekanan tambahan bagi nilai tukar rupiah. Ketergantungan pada dolar AS sebagai alat transaksi utama dalam perdagangan energi global dinilai memperbesar beban ketika mata uang tersebut menguat tajam.
Ia memperingatkan bahwa pelemahan rupiah dapat terus berlanjut apabila tekanan global tidak segera mereda. “Dalam perdagangan bulan Mei ini, kemungkinan besar Rp 18.000 per dolar AS akan tembus. Kalau seandainya Rp 18.000 per US$ tembus pada Mei ini, maka ada kemungkinan rupiah menembus level Rp 22.000 per dolar AS ,” ujar Ibrahim.

