Intip Prospek Terbaru Saham Harta (HRTA), Potensi Cuan Bisa Capai 54%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) tetap positif, meski permintaan emas pada kuartal II 2026 mengalami normalisasi. Hal ini berdampak terhadap volume penjualan emas perseroan sepanjang periode tersebut.
Hal ini mendorong BRI Danareksa sekuritas untuk tetap mempertahankan rekomendasi beli saham HRTA dengan target harga direvisi turun dari Rp 3.300 menjadi Rp 3.200. Meski direvisi turun, potensi cuan saham ini masih terbuka lebar mencpai 54% dibandingkan dengan harga penutupan kemarin Rp 2.080.
Target harga tersebut menggunakan valuasi 10,8 kali price to earnings (PER) tahun 2026 atau diskon 20% terhadap rata-rata valuasi perusahaan sejenis di kawasan yang mencapai 12,4 kali. Saat ini, saham HRTA diperdagangkan pada 7,4 kali PER FY2026F.
Baca Juga
Laba Bersih Hartadinata (HRTA) Melesat 101% di Semester I-2026, Ditopang Penjualan Emas
“Pemangkasan target harga mencerminkan revisi terhadap estimasi kinerja keuangan HRTA, tetapi tidak mengubah pandangan positif terhadap prospek jangka panjang perseroan,” tulis analis Analis BRI Danareksa Sekuritas Christy Halim dan Sabela Nur Amalina dalam riset terbarunya.
Berdasarkan data World Gold Council, permintaan emas nasional turun menjadi 17 ton pada kuartal II-2026 dari 27 ton pada kuartal I-2026. Kondisi tersebut turut berdampak pada pelemahan volume penjualan emas HRTA menjadi 5,17 ton pada kuartal II-2026, dibandingkan 7,83 ton pada kuartal sebelumnya.
Sejalan dengan pelemahan tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, manajemen HRTA menurunkan panduan kinerja 2026. Perseroan kini menargetkan volume penjualan emas sebanyak 25-28 ton sepanjang 2026. Target pertumbuhan pendapatan juga direvisi turun menjadi 40-60% secara tahunan dari sebelumnya 60-80% dengan target margin laba bersih sebesar 2%.
Momentum Pendongkrak
Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, HRTA masih dilingkupi prospek kuat dalam jangka panjang didukung segmen emas wholesale sebagai mesin pertumbuhan utama HRTA. Segmen tersebut berkontribusi sekitar 89% terhadap total pendapatan perseroan di semester I-2026 dengan sekitar 80% di antaranya berasal dari bullion bank, terutama Pegadaian dan BRIS.
Baca Juga
“Ke depan, potensi masuknya bullion bank baru dari bank konvensional hingga akhir 2026 diperkirakan menjadi katalis tambahan bagi pertumbuhan HRTA. Kontribusi yang lebih signifikan dari anggota baru tersebut diperkirakan mulai terlihat pada 2027,” tulisnya.
Sedangkan asumsi harga emas tahun ini diperkirakan turun menjadi US$ 4.289 per ounce dan diharapkan kembali naik menjadi US$ 4.463 per ounce pada 2027. Berdasarkan proyeksi tersebut, pendapatan HRTA diperkirakan mencapai Rp 66,87 triliun pada 2026, dibandingkan tahun 2025 mencapai Rp 44,55 triliun. Laba bersih diproyeksikan mencapai Rp 1,37 triliun pada 2026, dibandingkan Rp 978 miliar pada 2025.

